Kamis, 09 Desember 2010

Iyapa Upettu Rennu, Usapupi Mesana.

1


Kami sudah lelah, kini bersandar di batang pohon waru, daunnya yang lebat menghindarkan sinar matahari dari kami yang hampir putus asa. Dengan air mata yang terus mengalir, aku hanya bisa mengenang hari itu …

***
Dengan pakaian lengkap daengku berpamitan, tatapan matanya dalam dan penuh kasih sayang. Mencium keningku lalu menatap lagi mataku, kali ini dengan sedikit senyum di bibirnya, aku memandang bibirnya yang bergerak lambat demi menjelaskan padaku cara mengatasi jika rindu datang menyerang, “Narekko maruddaniki’, cengaki’ ri ketengnge Andi’, to siduppa mata”, kata daengku sambil menunduk agar bisa kuletakkan songkok Bone di kepalanya, songkok yang dipakai sejak tahun 1683 oleh pasukan Bone untuk membedakan mereka dalam perang melawan Tator. Kali ini untuk membedakan daengku dengan pasukan Belanda, kupasang songkok di kepalanya dengan menyebut nama Allah.



Berjalan menuruni tangga rumah panggung kami, daengku tidak sekalipun berpaling lagi melihatku yang terdiam berurai air mata tanpa suara, Ia bergabung bersama suami-suami lainnya yang juga meninggalkan istri mereka, kakak-kakak yang meninggalkan adik-adik mereka untuk mengusir Belanda keluar dari tanah Bone. Dengan parang dan bambu runcing, para lelaki kami bergabung dengan Raja , Lapawawoi Karaeng Sigeri, yang dengan heroik menyatakan perang tehadap kompeni di setiap jengkal tanah Bone.

Kepergian mereka membuat gambar hitam putih rumah-rumah panggung kami yang saling berhadapan kini makin buram.

***
Tujuh hari tujuh malam perang berkecamuk ketika datang kabar dari seseorang bahwa daengku telah gugur. Tapi seperti istri-istri lain yang mendapatkan kabar yang sama tentang suami mereka, aku tidak langsung percaya, aku masih melihat matanya di ketengnge seperti yang dia janjikan. Aku selalu rindu, tujuh malam sudah kuobati rinduku dengan melihat bulan, ada matanya di dalam sana yang balas menatapku.

Kami tidak percaya hingga memutuskan untuk mulai berjalan, memakai pakaian terbaik kami, lipa sa’bbe maccorak bombang kupakaikan dengan erat dipinggangku agar kuat dalam pejalanan. Siang malam berjalan dengan optimisme tinggi, jika lelah, kami mencari pohon waru untuk beristirahat di bawahnya. Pohon memang banyak, tapi kami selalu memilih pohon waru karena rantingnya mengandung getah yang bisa digunakan untuk membentuk model rambut, bisa keriting, bisa juga berombak. Jika sudah reda lelah kami, mulailah kami memotong-motong ranting dan sibuk dengan getahnya yang dioleskan ke rambut, Ranting yang telah terpotong itu kami buat sebagai kembongeng, alat untuk menggulung rambut kami. Aku membuat model berombak, kesukaan daengku.

Kami berjalan lagi sampai lelah datang kembali, di depan ada pohon waru, kami bersandar di batangnya. Lelah reda, mulai lagi kami memotong ranting dan sibuk dengan getah, penampilan harus maksimal demi bertemu dengan suami. Kami lanjut berjalan.

langkah kami mulai terseok ketika kembali kami menemukan pohon waru, waru yang ini tergolong sial, ukurannya masih kecil tapi sudah dipotong-potong oleh kami yang beristirahat disekelilingnya. Beberapa diantara kami bernyanyi demi menjaga harapan.

...ooooo mate colli mate colli i waru e
ri toto baja-baja ala ri toto baja-baja ala
na riala kembongeng...

oooo macilaka macilakai kembongeng
nappai ri bala - bala alla
nappai ribala - bala alla
na mate puanna...

Kami sudah lelah, kini bersandar di batang pohon waru, daunnya yang lebat menghindarkan sinar matahari dari kami yang hampir putus asa. Dengan air mata yang terus mengalir, kami melanjutkan lagu ini,

....oooo taroni mate taroni mate puanna
iyapa upettu renu alla
iyapa upettu renu alla
usapupi mesana.....

Biarlah mati Pohon Waru, Biarlah. Aku tidak akan putus asa, sampai ku elus batu nisan suamiku dengan tangaku sendiri.

Download lagu Ongkona Arungpone , lagu yang disepakati sebagai lagu resmi masyarakat Bone, diciptakan pada tahun 1905 ketika pecah perang kerajaan Bone dengan Belanda yang menewaskan ribuan laskar tentara kerajaan Bone.

saefuddinmuslimin.blogspot.com
Saefuddin 'efu' Muslimin on Facebook.
@efumuslimin on Twitter

1 comments:

Suharman Musa mengatakan...

Kisah heroik dan sedih diantara kecamuk perang masa lalu.....

Siapa yang ciptakan lagu itu? dan siapa penyanyinya, Efu?

Posting Komentar

 
Design by ThemeShift | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Templates | Best Web Hosting