Ada kesalahan di dalam gadget ini

Jumat, 04 November 2011

Narekko de’ siri’mu, inrekko.

0

Taro-taroi alemu siri’, Narekko de’ siri’mu, inrekko.
Lengkapilah dirimu dengan harga diri, jika tak ada harga dirimu, pinjamlah!
Nasehat berbahasa bugis ini sepertinya harus dicamkan baik-baik oleh para remaja Indonesia. Data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada 2010 menunjukkan, 51 persen remaja di Jabodetabek telah melakukan seks pra nikah. Di beberapa wilayah lain di Indonesia, seks pra nikah juga dilakukan sebagian remaja. Misalnya saja di Surabaya tercatat 54 persen, di Bandung 47 persen, dan 52 persen di Medan, rata-rata setengah dari jumlah remaja remaja terjerumus kedalam masalah ini. Bayangkan berapa jumlah anak-anak Indonesia yang kehilangan harga diri, jumlah remaja (15-19 tahun) di Indonesia mencapai 43 juta jiwa, tinggal dikalikan saja dengan persentasenya.
Kenyataan miris ini harus segera diatasi, mengingat pada tahun 2006 BKKBN pernah merilis hasil survei di kota-kota besar mulai Jabotabek, Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Makassar, masih berkisar 45 persen remaja yang mengaku melakukan hubungan seks sebelum nikah. Percepatan peningkatan jumlah seks bebas di kalangan remaja yang mencapai 5 persen dalam lima tahun ini harus segera dihentikan jika kita tidak ingin mencapai angka 100 persen beberapa tahun yang akan datang.
Ada beberapa faktor yang mendorong para remaja ini melakukan seks di luar nikah, diantaranya pengaruh pergaulan bebas, faktor lingkungan dan keluarga yang mendukung prilaku tersebut, serta pengaruh perkembangan teknologi media massa, untuk diketahui, ada sekitar 4.000.000 situs porno yang bisa diakses dengan mudah di Indonesia. Kemajuan teknologi pula yang belakangan menyediakan tontonan pornografi gratis di ponsel-ponsel remaja kita, celakanya, tontonan itu ikut dipraktekkan dan akhirnya memunculkan kasus-kasus video porno anak sekolah, ada yang bersetting lokasi di dalam kelas, di taman sekolah, di kamar kos, hingga di balik sekat-sekat bilik warnet.
Hasil penelitian Synovate Research lebih rinci lagi, 44% responden mengaku mereka sudah pernah punya pengalaman seks di usia 16 sampai 18 tahun. Sementara 16% lainnya mengaku pengalaman seks itu sudah mereka dapat antara usia 13 sampai 15 tahun. Selain itu, rumah menjadi tempat paling favorit (40%) untuk melakukan hubungan seks. Sisanya, mereka memilih hubungan seks di kos (26%) dan hotel (26%). Uniknya, para responden ini sadar bahwa seharusnya mereka menunda hubungan seks sampai menikah (68%) dan mengerti bahwa hubungan seks pra nikah itu tidak sesuai dengan nilai dan agama mereka (80%). Namun ironis karena ketika mereka ditanya tentang bagaimana perasaan mereka setelah kehilangan keperawanan atau keperjakaannya, hanya 47 persen yang mengaku takut hamil, berdosa atau ketahuan orang tua, ini pertanda bahwa moral, akhlak dan akidah sebagian remaja sudah merosot ke titik nadir.
Yang perlu kita lakukan?
Masalah ini wajib diberi perhatian, jangan sampai dibiarkan terus-menerus mengikuti perkembangan zaman dengan alasan globalisasi, kita adalah Indonesia, sebuah bangsa dengan kultur yang beradab, sebuah negara yang dilandasi nilai-nilai kesusilaan dan keberagaaman, jangan sampai Tuhan menurunkan murkanya pada kita.
Peran orang tua dalam memberikan pendidikan seks kepada anak-anaknya sejak dini samgat penting. Laki-laki sejak lahir sudah dilengkapi dengan ‘penis’, sama halnya perempuan dan ‘vagina’. Yang perlu dilakukan para orang tua cukup sederhana, siapkan jawaban pada anak-anak kita sedini mungkin jika suatu saat mereka bertanya mengapa penisnya berdiri ketika melihat keindahan perempuan, atau mengapa ada getaran-getaran nafsu yang mereka rasakan ketika melihat lawan jenisnya. Orang tua harus terbuka, agar anak-anak tak bertanya lebih-lebih mencoba sembarangan.
Tak perlu ke Yunani jika ingin beretika, Tak perlu belajar jauh-jauh tentang pemecahan masalah ini, kita hanya harus kembali ke nilai-nilai yang dikandung budaya kita, anak-anak dan remaja sebaiknya kembali diakrabkan dengan budaya bugis, yakni ‘siri’ (harga diri)’, suatu keadaan dimana harga diri dan martabat dijunjung tinggi, baik diri sendiri maupun keluarga. Ceritakan pada mereka kisah tentang la’Pabbelle’ putra Arung Matoa Wajo X La Pakoko Topabbele’ yang memperkosa wanita di kampung Totinco kemudian dijatuhi hukuman mati oleh ayahnya sendiri agar mereka paham akan pentingnya harga diri. Dengan siri’ anak-anak kita akan tahu bahwa seseorang yang tidak mempunyai malu atau harga diri bagaikan seonggok bangkai yang berjalan, seperti kata pepatah bugis, ‘’siri’e mi to riaseng tau”, hanya karena harga dirilah, kita dinamakan manusia.

Dimuat di Kendari News, Portal Informasi Sultra Untuk Dunia.

Read more

 
Design by ThemeShift | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Templates | Best Web Hosting