Ada kesalahan di dalam gadget ini

Minggu, 25 Desember 2011

Pesan Sang Ibu

0

 
5 tahun sudah ketika pertama kali kami diperdengarkan pada sebuah pesan, pesan yang disampaikan dengan backsound sebuah lagu, lagu yang semua Mahasiswa Indonesia pasti pernah mendengarnya. Sebuah lagu yang wajib dinyanyikan oleh Mahasiswa dan yakinlah, pesan dalam lagu ini akan membuat semua yang menyanyikan dan mendengarnya, Merinding...




Pesan Sang Ibu

Tatkala aku menyarungkan pedang
dan bersimpuh di atas pangkuanmu
tertumpah rasa kerinduanku pada sang ibu
tangannya yg halus mulus membelai kepalaku
bergetar seluruh jiwa ragaku
musnahlah seluruh api semangat juangku
namun sang ibu berkata…

“anakku sayang apabila kakimu sudah melangkah di tengah padang
tancapkanlah kakimu dalam-dalam
dan tetaplah terus bergumam
sebab gumam adalah mantera dari dewa-dewa
gumam mengandung ribuan makna
apabila gumam sudah menyatu dengan jiwa raga
maka gumam akan berubah menjadi teriakan-teriakan
yang nantinya akan berubah menjadi gelombang salju yang besar
yang nantinya akan mampu merobohkan istana yg penuh kepalsuan
gedung-gedung yg dihuni kaum munafik"

"tatanan negeri ini sudah hancur anakku
dihancurkan oleh penguasa sang negeri ini
mereka hanya bisa bersolek di depan kaca
tapi membiarkan punggungnya penuh noda
dan penuh lendir hitam yang baunya kemana-mana
mereka selalu menyemprot kemaluannya dengan parfum luar negeri
diluar berbau wangi didalam penuh dengan bakteri
dan hebatnya penguasa sang negeri ini
pandai bermain akrobat
tubuhnya mampu dilipat-lipat yg akhirnya pantat
& kemaluannya sendiri mampu dijilat"

"anakku.. apabila pedang sudah kau cabut janganlah surut..
janganlah bicara soal menang dan kalah
sebab menang dan kalah hanyalah mimpi-mimpi
mimpi-mimpi muncul dari sebuah keinginnan
keinginan hanyalah sebuah kayalan yg hanya akan melahirkan harta
& kekuasaan harta dan kekuasaan hanyalah balon-balon sabun yg terbang di udara
anakku asahlah pedangmu ajaklah mereka bertarung di tengah padang
lalu tusukan pedangmu ditengah-tengah selangkangan mereka
biarkan darah tertumpah di negeri ini
satukan gumam-mu menjadi revolusi…"


Sebagian dari kami bahkan sampai menagis mendengar pesan itu, terbayang wajah Ibu-ibu kami, yang melahirkan dan membesarkan kami, dengan ikhlas melepaskan kami ke dunia yang penuh dengan kegelisahan, Ke Negeri yang tatanannya sudah di hancurkan oleh penguasa.  

Seiring dengan berakhirnya "Pesan Sang Ibu", hari itu kami berjanji, Apabila pedang sudah tercabut, tak akan pernah kami surut. Kami akan terus mengasah pedang dan menusukkannya ke tengah-tengah selangkangan para Penguasa yang hanya bisa bersolek di depan kaca tapi membiarkan punggungnya penuh noda dan penuh lendir hitam yang baunya kemana-mana...

Di sini negeri kami
tempat padi terhampar luas
samuderanya kaya raya
tanah kami subur, Tuhan.

Di negeri permai ini

berjuta rakyat bersimbah luka
anak kurus tak sekolah
pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya

tergusur dan lapar

Bunda, relakan darah juang kami

tuk membebaskan rakyat

padamu kami berjanji

padamu kami berbakti
tuk membebaskan rakyat






Read more

 
Design by ThemeShift | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Templates | Best Web Hosting