Sabtu, 31 Januari 2015

Senyum Itu Saja Sudah Cukup

0

Perjalanan cukup panjang hari ini, sekitar 790 Km dari Banjarmasin-Palangkaraya-Buntok. Di ujung perjalanan nanti akan ada agenda pemeriksaan yang cukup panjang dan menegangkan di Ruang Reskrim Polres Barito Selatan. Kelalaian kami diduga menyebabkan seorang Polisi tenggelam dan meninggal dunia, ketegangan yang biasa saja. Dalam panjangnya perjalanan menembus belantara Kalimantan itu Aku teringat kembali sebuah perjalanan yang paling menegangkan yang pernah Kualami...

Banyak sekali pengertian cinta yang pernah diungkapkan dan dibuktikan. Ungkapan cinta itu juga yang mengantar saya melakukan perjalanan menegangkan itu. Aku telah jatuh cinta pada seorang gadis cantik dan bertekad bahwa perjalanan apapun akan saya lalui untuknya, termasuk perjalanan menuju rumah orangtuanya untuk meyakinkan bahwa Aku adalah lelaki terbaik bagi anak kesayangan mereka yang luar biasa indahnya.

Ketegangan nyaris berhasil memukul mundur tekadku, Aku ini apa? Hanya seorang laki-laki yang baru bekerja 3 bulan, belum punya pengalaman hidup yang cukup, sedikit rupawan dan untungnya bebas Narkoba. Mungkin ini yang namanya modal nekat. Kubayangkan wajah gadis cantikku sedang tersenyum kepadaku, senyuman paling manis yang bisa terbayangkan. Benar kata orang, senyum itu sebuah lengkungan yang membuat segalanyaa menjadi lurus. Senyum itu saja sudah cukup menuntunku kepada jalan yang lurus sampai tiba-tiba saja sudah berada di dalam rumah itu.
Sebuah rumah toko yang menjual beragam pernak-pernik, perhiasan dan manik-manik. Seperti gadisku yang riang dan berwarna-warni. Setelah mengucapkan salam dan sedikit hilang ingatan, tiba-tiba lagi aku telah duduk dihadapan kedua orang itu, yang dalam hati kusebut sebagai calon mertuaku, Calon mertua apa lagi yang kita harapkan tingkat kengerian dan kesulitannya selain Tentara? Syukurlah, calon mertuaku tentara. Hey Bapak dan Ibu, anakmu itu cantik sekali, tidak ada satu haripun yang kulewati tanpa mengingat wajahnya, bolehkan aku memintanya?, pintaku dalam hati...

Melihat kedua calon mertuaku dari dekat membuat aku tahu bahwa dari sinilah gadisku yang indah itu berasal, kecantikan Ibunya menurun dua kali lipat, keteguhan hati Ayahnya menurun dua kali lipat. Perpaduan sempurna untuk menghasilkan seorang gadis yang kucintai sepenuh hati, “terima kasih telah melahirkan seorang yang akan menemani hidupku selamanya”, ucapku masih dalam hati. Setelah sedikit basa-basi, kuutarakan niat untuk hidup bersama anak gadis mereka selamanya.
Seperti petir di siang bolong, Aku ditolak. Ah, ayah mertuaku ini sepertinya tahu betul bahwa cintaku kepada anaknya tidak dapat dibendung lagi, menolakku tidak ada gunanya, aku tidak akan menyerah. Benar kata Lao Tzu, “Being deeply loved by someone gives you strenght, while loving someone deeply gives you courage” . Seminggu kemudian kuutus Ibuku dan seluruh keluarga serta pasukan lengkapnya untuk melamar gadisku. Ayah mertuaku masih sempat menolak namun Ibuku juga telah jatuh cinta pada gadisku. Apa lagi yang lebih hebat itu? Ibuku tidak pernah menyerah, sama sepertiku. 

Saat ini, hampir 2 Tahun pernikahan kami, dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik. Aku tahu istriku akan selalu ada disampingku.

Untuk Istriku Tersayang :
Banyak kisah yang akan kutuliskan sebagai ungkapan cintaku kepadamu Sayang. Tapi yang ini sampai di sini dulu sayang, Aku Harus menjawab pertanyaan penyidik Polisi, “Mengapa Almarhum Anggota kepolisian yang mengawal tongkang Batubara perusahaan Anda tidak diberikan pelampung saat turun dari kapal sehingga megakibatkan Kecelakaan?”

Semuanya baik-baik saja sayang, aku hanya butuh senyumanmu...

Read more

Selasa, 24 Juli 2012

Seorang Sopir Artic

0


Pertama kali mengunjungi tambang, saya kaget luar biasa. Benarkah Sopir Truck Artic itu seorang perempuan? Saya pernah melihat perempuan-perempuan hebat yang melakukan pekerjaan di luar kebiasaan, beberapa diantaranya menjadi tukang cat, kuli bangunan, sopir angkot, presiden dan lain-lain. Tapi, ini sungguh tak pernah terpikirkan. Tahukah apa itu truck Artic? Jika di televisi anda pernah melihat truck besar berwarna kuning yang diameter rodanya mirip kubah mesjid atau lebih tinggi dari pada tiga orang dewasa yang disusun, truck itu dapat mengangkut 20 – 30 ton sekali jalan dan dapat bermanuver di  tanah becek sekalipun tanpa khawatir bannya yang segede Pegulat Sumo ditumpuk sembilan amblas ke dalam tanah.  Truck inilah yang disupiri perempuan.
Setelah berkeliling di Tambang, diketahui bahwa rupanya semua truck Artic dioperatori perempuan. Hampir semua mobil-mobil besar di perusahaan tambang ini termasuk escavator dioperatori perempuan. Dalam sebuah kesempatan di kantor pusat saya bertemu dengan pimpinan divisi alat berat yang menjelaskan bahwa perempuan dipilih karena mereka tidak banyak membuang-buang waktu untuk merokok dan lebih halus dalam berkendara selain juga mobil artic yang ukurannya super besar ini ternyata sangat mudah dikendarai.
Waktu mempertemukan saya dengan seorang sopir artic, perempuan berusia 29 tahun asal Toraja, Sulawesi Selatan. Bertepatan dengan jadwal pulang ke Makassar untuk Wisuda, AF inisial namanya, juga akan pulang ke Toraja. Dia berhenti bekerja. Dengan mobil perusahaan, kami menuju bandara di Banjarmasin. Sepanjang jalan saya bercerita tentang kagetnya saya melihat mobil sebesar itu dikendarai seorang perempuan. Dia juga dengan bangganya bercerita tentang kehebatannya bisa menjadi operator artic.  Di samping sopir, duduk seorang lelaki pendiam yang ternyata merupakan pacar AF. JN inisialnya, dia juga bekerja di perusahaan sebagai sopir mobil biasa. Setelah cukup lama bersama mereka, saya mengetahui bahwa JN ini pendiam karena tidak fasih berbahasa Indonesia, dia orang dayak asli.
Saya baru saja mengalami perpisahan yang cukup menyakitkan dengan keluarga dan orang terkasih ketika pertama berangkat ke Kalimantan dan sekarang harus berada di tengah-tengah latar yang sama, JN & AF akan berpisah mungkin untuk selamanya.
Delapan jam perjalanan ke Bandara seperti biasa cukup melelahkan, tapi itu menjadi delapan jam yang sangat singkat bagi mereka berdua. Diantara singkatnya waktu itu, saya sering mengganggu mereka dengan pertanyaan-pertanyaan nostalgia tentang hubungan mereka. AF akan tertawa kecil jika mengingat pertama kali bertemu dengan JN. Jika jam makan siang tiba, JN akan datang ke Tambang dengan mobil carry pengangkut makanan dan membagikan makanan pada semua orang yang bekerja di Tambang, AF salah satunya. Anda boleh membayangkan seorang istri yang mengantar rantang makanan di jam makan siang kepada suaminya di sawah, tapi ini kondisinya terbalik, Laki-laki yang mengantar makanan untuk perempuan di gersangnya lahan tambang. Begitu setiap hari hingga ada cinta diantara mereka.
Pintu masuk terminal bandara sudah di depan mata, mereka berpelukan untuk terakhir kalinya dan akhirnya berpisah. Saya jalan lebih dulu menuju counter check-in, AF ikut di belakang. Antrian panjang seperti biasa dilewati sekitar 30 menit. Lalu muncul kalimat dari petugas counter yang membuat saya lagi-lagi kaget luar biasa, sambil menunjuk ke arah AF, dia bertanya,”Maaf Pak, Istrinya Hamil berapa bulan? Kalau hamil, Bapak tolong tandatangani surat pernyataan ini….”
Sepanjang jalan tadi kami bertiga bercerita banyak hal tapi tak tahu kalau temanku ini ternyata hamil 4 bulan. Terpaksa saya menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut ganti rugi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada kandungan AF. Untuk sementara, saya yang bertanggung jawab atas perbuatan JN, paling tidak selama perjalanan ke Makassar, sial. “Istrinya jangan ditinggal jauh-jauh ya Pak!”, tambah petugas counter setelah membereskan boarding pass, menambah suram suasana.
Tapi setelah dipikir-pikir, ini adalah kesempatan mendapatkan pahala. Tak tega juga rasanya melihat wajah AF yang selalu berkaca-kaca, mungkin dia malu, mungkin juga dia takut membayangkan betapa beratnya kehidupan yang akan dihadapinya. Sudahlah, saya harus bersikap seperti biasa, menjadi pelayan bagi siapa saja, hitung-hitung latihan menjaga istriku nanti yang juga akan hamil. Semoga temanku ini kuat menghadapi kehidupannya di masa yang akan datang. Kujabat tangannya lalu mengucapkan selamat berpisah di pintu keluar Bandara Hasanuddin, Makassar.

Read more

Senin, 02 Juli 2012

Hari Pertama

0

Hari pertama masuk SD tahun 1994, Saya diantar oleh Bapak ke Sekolah, bukan cuma diantar tapi Bapak juga terpaksa ikut masuk ke ruang kelas karena saya menangis jika ditinggalkan sendirian. Cukup menakutkan bagi seorang anak seperti saya berbaur dengan anak-anak Pribumi Papua yang jumlahnya jauh lebih besar dibanding anak-anak pendatang. Bapak terpaksa terlambat masuk kerja seminggu untuk menemani hari-hari pertamaku masuk sekolah.

Hari ini, 18 tahun setelah itu. Situasi yang sama kembali terjadi. Tidak ada Bapak yang menemani bukan menjadi masalah karena saya pun semakin hari semakin mirip bapak-bapak. Jauh dari tanah Papua, Kota Tamiyang Layang, Kabupaten Barito Timur di belantara Kalimantan, hari pertama masuk kerja. Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya akan bekerja di hutan, lebih-lebih lagi bekerja di bidang pertambangan. Tau apa saya tentang tambang? bukannya tambang itu sejenis tali? Apakah batu tawas juga ditambang? dan banyak lagi pertanyaan tentang tambang. 

Terbayang pengorbanan selama ini untuk memahami, memperdalam ilmu dan menghapal segala tetek bengek manajemen lebih dari 6 tahun sambil bercita-cita menjadi Manager. Lalu setelah kuliah yang memeras segala keringat dan cairan dari dalam tubuh, yang kudapat adalah pekerjaan menggali tanah, mengambil batubara, dan menjualnya. Beruntung, perusahaan tambang ini adalah yang terbesar di Kabupaten Barito Timur. Dari hasil pengenalan awal tentang perusahaan, diketahui bahwa ada sekitar 2.500 karyawan, ratusan Dump Truck, ratusan alat berat, puluhan kapal pengangkut batubara dan puluhan ribu hektar lahan yang tersebar di Bartim & Barsel yang telah dan sementara dibebaskan untuk digali. Perusahaan ini juga sedang bertransformasi untuk beradaptasi dengan manejemen modern.

Bartim atau Barito Timur adalah salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah yang beribukota di Tamiyang Layang. Walaupun merupakan Ibukota, Tamiyang Layang lebih mirip sebuah kecamatan di Sulawesi Selatan. Hanya ada satu Bank, satu lampu merah, satu SPBU, dan satu Kantor Polisi. Mengingat 80% penduduk beragama kristen, masjid pun bisa dihitung jari. Seperti dulu di Papua, Islam di sini menjadi golongan Minoritas. Syukurlah, walau tidak terlalu jauh dari Sampit, daerah yang terkenal dengan konflik antar agamanya, Tamiyang Layang cukup kondusif dan toleran walaupun masih agak menakutkan mengingat Kota ini lebih pantas disebut hutan, saking sepi dan gelapnya.

Target yang ditetapkan di hari pertama ini adalah mengetahui segala seluk beluk Pertambangan, Prosedur perijinan dan Tahapan pembebasan lahan. Bos memberikan waktu 3 bulan sebelum dipanggil kembali ke Jakarta untuk mempresentasikan kemajuan pengetahuan saya terhadap pekerjaan ini. Untuk itu, saya harus siap ke hutan mengikuti proses pengeboran, ke kantor-kantor pemerintah untuk mengurus perijinan, dan mengikuti segala arahan dari supervisor yang ditugaskan membimbing saya dengan ikhlas dan bertanggung jawab.

Tamiyang Layang, 02 Juli 2012.

Read more

Kamis, 28 Juni 2012

Choice Is A Magic Word

0

Choice is a magic word, begitu menyadari bahwa kita punya pilihan, seketika kita akan berubah dari objek menjadi subjek. Alih-alih mengatakan ‘saya harus pergi’, cobalah mengatakan ‘saya mau pergi’, kita akan berubah dari kondisi tak berdaya (powerless) menjadi berdaya (powerfull).
Banyak manusia menjalani hidupnya dalam ketidaksadaran seperti robot-robot yang dikendalikan oleh orang lain. Seperti pernah dituturkan Anthony de Mello… “seorang petani menemukan telur burung elang di ladangnya. Karena rasa kasih yang dimilikinya, petani membawa telur itu pulang ke rumahnya, lalu meletakkan telur elang itu diantara tumpukan telur ayam yang sedang dierami oleh induknya.
Tak lama berselang, telur itu menetas bersama telur-telur ayam lainnya. Sejak itu, elang kecil hidup tumbuh dan hidup laksana ayam, berjalan meniru induknya, mematuk-matuk makanan seperti saudaranya—anak-anak ayam—dan berperilaku sama seperti ayam-ayam yang lainnya. Hanya saja, ia terlihat lebih elegan dari ayam lainnya.
Ia terus bertumbuh hingga usianya mulai tua. “Ayam” itu tak pernah mencoba terbang apalagi meliuk di udara, ia hanya bisa berjalan seperti yang dipelajarinya sejak kecil. Meskipun ia tak bisa bertelur layaknya ayam betina atau birahi seperti ayam jantan. Hingga suatu ketika, “ayam” yang mulai tua itu bermain di ladang bersama ayam-ayam lainnya. Ketika melongok ke udara, ia melihat seekor burung melayang-layang dengan gagah mengintai mangsa. Ayam-ayam lain mengajak “ayam” itu segera mencari tempat yang aman untuk berlindung.
“Kenapa kita harus lari bersembunyi?” tanya “ayam”.
“Kalau tidak, kita akan dimangsa burung perkasa itu,” jawab ayam lainnya.
“Makhluk apa itu?” cecar “ayam”.
Ayam lainnya menjawab, “O, itu burung paling perkasa. Namanya burung elang. Selain jago terbang, ia juga suka menunggu kita lengah agar bisa memangsa kita.”
“Kita juga punya sayap, kenapa tidak terbang saja?” sergah “ayam” itu.
“Kamu ada-ada saja,” jawab ayam yang lain, “kita ini hanya seekor ayam, tidak mungkin bisa terbang seperti itu.”
Karena penasaran, “ayam” itu keluar dari persembunyiannya. Ia abaikan peringatan saudara-saudaranya. Akibatnya, ia mati diterkam burung elang. Akhir kisah, “ayam” itu benar-benar mati sebagai ayam yang tak punya Pilihan.
Apakah kita senantiasa memiliki pilihan dalam situasi apapun?
Kita memang tak dapat memilih ingin dilahirkan oleh siapa, di mana, dan dibesarkan dengan cara apa. Tapi kita dapat memilih mau jadi apa di masa depan. Kalau kita dilahirkan sebagai pria atau wanita, itu namanya takdir. Tapi kita punya pilihan untuk menerima kenyataan tersebut dan menjadikannya apa saja sesuai kehendak kita. Kita tak dapat memilih takdir, tapi kita dapat memilih nasib kita.
Kita tak dapat mengontrol krisis ekonomi tapi kita dapat memilih gaya hidup yang sesuai dengan keadaan ekonomi. Kita memang tak bisa menjamin keamanan di malam hari, tapi kita bisa memilih untuk tidak terlalu sering keluar malam. Wanita tidak dapat menolak upaya Pemerkosaan, tapi sebelumnya bisa memilih pakaian apa yang akan dikenakan.
Pilihan memang membuka kesempatan bagi manusia untuk menjadi yang terbaik, tetapi waspadalah dalam memilih, karena kesempatan untuk menjadi yang terburuk juga terbuka sama lebarnya.

Read more

Selasa, 26 Juni 2012

Melihat ke Langit, di antara Bintang-Bintang

0


Ada sedikit pengalaman naik perahu sebelum ini. Beberapa di antaranya adalah naik perahu di Perairan Makassar menuju Pulau Kayangan, perahu katinting di sungai Walannae yang dangkal saat kemarau,  dan perahu sempit yang bergoyang hebat saat menyusuri danau tempe. Sedikit bukan? Satu lagi, Boom Boom Boat di Genting Highland. Naik perahu, menurutku adalah kegiatan yang cukup menakutkan mengingat berenang adalah kegiatan yang tak bisa kulakukan. Ditimbang-timbang, mungkin lebih baik belajar terbang ketimbang berenang. Hari ke dua di Pulau Kalimantan, terpaksa harus menyusuri sungai Barito, salah satu yang terbesar di Indonesia.

Hanya 1% dari panjang sungai barito yang mencapai 900 km yang harus dilalui hari ini untuk menuju ke Pelabuhan Batu Bara milik PT. SEM yang berada di Desa Telang Baru, Kabupaten Barito Timur. Sungai panjang berkelok-kelok dengan air keruh kecoklatan akibat limbah para penambang batubara itu cukup tenang mengkilat-kilat dipantuli cahaya matahari. 

Yang unik adalah perahunya, speed boat kata orang lokal. kami berlima, AJD, AJ, FMN, ARW menumpang perahu milik Kepolisian setempat, namun entah karena penumpang kelas berat atau mesin yang mulai karat, perahu ini sama sekali jauh dari gambaran sebuah speed boat yang cepat seperti berlari di atas air. Perahu milik polisi ini merangkak seperti baru belajar jalan dan nyaris kehabisan energi.

Sungai Barito dulunya adalah jalur transportasi utama di daerah ini. Walau mulai terkikis jalan aspal, sungai dan perahu masih merupakan moda transportasi andalan bagi warga masyarakat bantaran sungai terlebih lagi para pengusaha tambang yang mengirim batubara dengan kapal tongkang melalui sungai ini. Kapal tongkang besar milik para penambang dianggap mencemari sungai yang makin hari semakin keruh. Di sekitar kapal itulah perahu kami merangkak pelan seakan memberikan kami kesempatan untuk melihat kehidupan bantaran sungai. Kiri kanan terlihat perkampungan terapung milik warga setempat menghadap ke arah sungai lengkap dengan kios kelontong sampai penjual pulsa. Mandi, mencuci, dan buang air kecil sampai besar semuanya dilakukan di depan rumah. limbahnya langsung nyemplung ke sungai. Saking banyaknya perkampungan demikian, tiba-tiba aku berpikir, kapal tongkangkah yang memperkeruh air sungai, atau kah sesuatu yang nyemplung tadi?

Perahu milik polisi sudah menyerah, kapten perahunya mentransfer kami ke perahu milik warga yang kebetulan lewat di sebelah kami. Terjadilah adegan seperti  di film-film luar angkasa, astronot pesawat ulang alik di transfer ke pesawat lainnya karena masalah teknis. ini bukan luar angkasa, tapi ini tepat di tengah sungai barito, salah satu yang terbesar dan terpanjang di Indonesia. perahu terguncang seperti disambar asteroid ketika penumpang kelas berat menyeberang ke perahu sebelah. Aku tidak bisa berenang tapi beruntung masih bisa menyeberang.

Perjalanan berlanjut dengan perahu milik warga yang kali ini benar-benar sebuah Speed Boat. speed boad yang nyentrik kalau boleh saya tambahkan. Kecepatan yang tinggi membuat mesin  meraung keras memekakkan telinga tapi pemilik perahu ini masih sempat memasang tape dengan speaker KW 2 yang mengalunkan lagu dangdut asli yang lembut dan sangat tidak sinkron dengan kecepatan dan guncangan speed boat ini. Yang lebih nyentrik lagi, perahu ini juga dilengkapi dengan pengharum mobil mahal merek Ambiphur Car padahal perahu ini terbuka kiri kanan. Wangi Ambiphur Car melayang sia-sia. Terlepas dari itu, perahu ini benar-benar cepat hingga tak terasa kami telah sampai ke pelabuhan batubara milik PT. SEM.

Setelah meeting seharian, tiba waktunya pulang. perahu warga yang tadi sudah menunggu. Malam menampakkan bintang-bintang di langit dengan belaian angin malam yang lembut karena perahu tak boleh ngebut lagi di malam hari. Aku hanya melihat ke langit, di antara bintang-bintang, ada senyum mu menemani perjumpaan dan perkenalan awalku dengan Bumi Kalimantan.

Read more

Senin, 28 Mei 2012

Kriteria Untuk Menilai Kebijakan Pemerintah

0


Dalam usaha mencapai kesejahteraan masyarakat, pemerintah melaksanakan pembangunan diberbagai bidang kehidupan. Pembangunan itu menggunakan faktor-faktor produksi seperti modal, SDA, SDM, dan lain sebagainya. Dalam penggunaan faktor produksi tersebut perlu dilaksanakan pengawasan agar upaya pemerintah tetap berada di koridor yang tepat.
Ada pilihan lain bagi pemerintah yaitu memberikan keleluasaan pada sektor swasta yang lebih professional dan bersaing secara bebas, namun dikhawatirkan sektor swasta itu melakukan monopoli dan mementingkan golongan sendiri sehingga makin menyengsarakan masyarakat kecil. Untuk perlu dibuat kebijakan pemerintah yang terarah dengan baik dalam memanfaatkan faktor produksi untuk kesejahteraan rakyat.
Untuk mengukur seberapa baik atau seberapa buruk kebijakan yang dibuat pemerintah, Edgar dan Jacuelene Bowning (1979) menggunakan 4 (empat) tolak ukur; Pertama, apakah kebijakan pemerintah itu memperlakukan semua warga Negara secara sama dan tidak pilih kasih (Keadilan). Hal ini, kalau boleh saya tambahkan, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh orang bugis terdahulu, “ Aja’ mutonangi lopi wati’ siwali.” (Dari kumpulan Andi Palloge Petta Naba) artinya jangan menumpang pada perahu yang berat sebelah, jika tidak ingin tenggelam. Begitu pula dengan Negara kita, jika tidak ingin makin terjerembab lebih jauh, jangan berat sebelah hanya pada kepentingan kelompok tertentu.
Tolok ukur kedua adalah efisiensi, pelaksanaan kebijakan pemerintah diharapkan menghindari pemborosan, menciptakan penghematan yang akan berujung pada kesejahteraan masyarakat. Berikutnya yang ketiga, Paternalistic, layaknya sorang ayah, kebijakan Negara harus mampu memenuhi semua kebutuhan masyarakat, baik barang maupun jasa, terutama kebutuhan dasar seperti sandang, pangan dan papan. Terakhir atau yang keempat adalah kebebasan perorangan. Pemerintah harus menjamin kebebasan individu untuk menggunakan dan membelanjakan pendapatan mereka untuk memenuhi kebutuhan.
Seperti halnya setiap keputusan yang diambil dimana saja, adalah tidak mungkin suatu keputusan itu diterima dengan baik oleh semua orang yang terkait dan berkepentingan. Setiap kebijakan pasti mengorbankan salah satu diantara keempat tolok ukur yang dibahas diatas. Sebagai contoh, BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang sangat sesuai dengan prinsip keadilan dan paternalistic (kebapakan), tetapi sangat bertolak belakang dengan prinsip efisiensi. Yang menjadi perhatian pemerintah seharusnya adalah suatu kebijakan yang lebih berorientasi pada masyarakat banyak atau golongan menengah ke bawah yang merupakan mayoritas di Negara ini.



Read more

Kamis, 02 Februari 2012

The Curious Case of Benjamin Button

0

In 2005, Daisy, an elderly woman, is on her deathbed in a New Orleans hospital. Daisy asks her daughter, Caroline, to read aloud from the diary of Benjamin Button. In 1918, Mr. Gateau, a blind New Orleans clockmaker, loses his son on the battlefields of France in World War I. As a way to deal with the grief, Gateau builds a large clock for the New Orleans train station, but fixes it so that the time goes in reverse. When asked why, Gateau states that maybe time will reverse and the men lost in the war—including his son—might come home again.

On the evening of November 11, 1918, a boy is born with the appearance and physical maladies of a very elderly man. The baby's mother dies shortly after giving birth, and the father, Thomas Button, abandons the infant on the porch of a nursing home. Queenie and Mr. "Tizzy" Weathers, who work at the nursing home, find the baby, and Queenie decides to care for him as her own.

In 1930, 12-year-old Benjamin, having exchanged a wheelchair for crutches, befriends six-year-old Daisy, whose grandmother lives in the nursing home. As Benjamin's body grows younger, he accepts work on a tugboat. Benjamin also meets Thomas Button, who does not reveal that he is Benjamin's father. In 1936, Benjamin leaves New Orleans with the tugboat crew for a long-term work engagement. He eventually finds himself in Murmansk, where he starts an affair with Elizabeth Abbott, wife of the British Trade Minister.
In 1941, while the tugboat crew is still in Russia, Japan attacks the U.S. at Pearl Harbor thrusting America into World War II. Mike, the captain, volunteers the boat to be a ship in the U.S. Navy and the crew is assigned to scrap collection duty. During a patrol, the tugboat stumbles upon a sunken U.S. transport and the bodies of hundreds of American troops. While surveying the carnage, a German submarine surfaces. Knowing his duty Mike steers the tugboat full speed towards the sub while a German gunner fires on the tugboat killing most of the crew including Mike. The tugboat rams the submarine causing it to explode sinking both vessels. The next day Benjamin and one other crew member are picked up by ships of the U.S. Navy.

In 1945, Benjamin returns to New Orleans, and learns that 21-year-old Daisy has become a successful ballet dancer. Benjamin again crosses paths with Thomas Button, who, terminally ill, reveals that he is Benjamin's father. Thomas wills Benjamin his possessions before he dies.

Daisy's dance career is ended in Paris in 1957, when she is hit by a taxi cab and breaks her leg. When Benjamin goes to see her, Daisy is amazed at his youthful appearance, but frustrated at her own injuries; she tells him to stay out of her life. In 1962, Daisy returns to New Orleans and reunites with Benjamin. Now of comparable physical age, they fall in love and move in together.

Daisy gives birth to a girl, Caroline in 1968. Benjamin, believing he cannot be a father figure to his daughter due to his reverse aging, sells his belongings and leaves the proceeds to Daisy and Caroline. He travels the world alone during the 1970s.

Benjamin, appearing to be in his early twenties, returns to Daisy in 1980. Now re-married, Daisy introduces Benjamin to her husband and daughter as a family friend. Daisy then visits Benjamin at his hotel, where they share their passion for each other. Daisy admits that Benjamin was right to leave; she could not have coped otherwise. Benjamin departs again.

In 1991, widowed Daisy receives a phone call from social workers. They have found Benjamin — now apparently about 12 years old — living in a condemned building, and have contacted her because they found her name in his diary. The bewildered social workers say that his condition resembles dementia. Daisy moves into the nursing home where Benjamin grew up and takes care of him as he becomes increasingly younger until, physically, he becomes an infant once more. In 2003, he dies in Daisy's arms remembering who she was. Benjamin's story now told, Daisy dies in her New Orleans hospital bed, as Hurricane Katrina approaches.

Read more

Big Fish

0

At his son's wedding party, Edward Bloom (Albert Finney) tells the same tale he's told many times over the years: on the day Will (Billy Crudup) was born, he was out catching an enormous uncatchable fish, using his wedding ring as bait. Will is annoyed, explaining to his wife Joséphine (Marion Cotillard) that because his father never told the straight truth about anything, he felt unable to trust him. He is troubled to think that he might have a similarly difficult relationship with his future children. Will's relationship with his father becomes so strained that they do not talk for three years. But when his father's health starts to fail, Will and the now pregnant Joséphine return to Alabama. On the plane, Will recalls his father's tale of how he braved a swamp as a child, and met a witch (Helena Bonham Carter) who showed him his death in her glass eye. With this knowledge, Edward knew there were no odds he could not face.

Edward continues telling tall tales, claiming he spent three years confined to a bed as a child because his body was growing too fast. He became a successful sports player, but found the town of Ashton too small for his ambition, and set off with the misunderstood giant Karl (Matthew McGrory). Edward discovers the hidden town of Spectre, where everyone is friendly to the point of comfortably walking around barefoot. Edward leaves because he does not want to settle anywhere yet, but promises to a young girl named Jenny (Hailey Anne Nelson) that he will return. Karl and Edward begin working at a circus; Edward works without pay, as he has been promised by the ringmaster Amos Calloway (Danny DeVito) that each month he will learn something new about a girl he fell in love with (at first sight). Three years later, having only learned trivia about her, Edward discovers Amos is a werewolf. In return for his refusal to harm him in his monstrous state, Amos tells Edward the girl's name is Sandra Templeton (Alison Lohman) and she studies at Auburn University.

Edward learns Sandra is engaged to Don Price (David Denman), whom Edward always overshadowed during his days in Ashton. Sandra makes Edward promise not to fight Don. Don beats Edward up when he learns about his feelings for her, but this only disgusts Sandra into ending their engagement and falling for Edward. Edward later reveals that Don died from a heart attack on the toilet bowl at an early age (as Don saw in the Witch's eye). During his recovery, Edward is conscripted by the army and sent to the Korean War. He parachutes into the middle of a show entertaining North Korean troops, steals important documents, and convinces Siamese twin dancers Ping and Jing to help him get back to the United States, where he will make them stars. He is unable to contact anyone on his journey home, and the military declares him dead. This limits Edward's job options when he does return home, so he becomes a traveling salesman. Meeting the poet Norther Winslow from Spectre again, he unwittingly helps him rob a bank, which is already bankrupt. Edward suggests Winslow work at Wall Street, and Winslow thanks Edward for his advice by sending him $10,000, which he uses to buy a dream house.

Still unimpressed by his father's stories, Will demands to know the truth, but Edward explains that is who he is: a storyteller. Will finds Spectre, and meets an older Jenny (Helena Bonham Carter), who explains that Edward rescued the town from bankruptcy by buying it at an auction and rebuilding it with financial help from many of his previous acquaintances. Will suggests his father had been having an affair with Jenny, to which she replies that while she had indeed fallen in love with him, Edward could never love any woman other than Sandra. When Will returns home, he is informed his father had a stroke and is at the hospital. He goes to visit him there and finds him only partly conscious, and unable to speak at length. Since Edward can no longer tell stories, he asks Will to tell him the story of how it all ends: escaping from the hospital, they go to the river where everyone in Edward's life appears to bid him goodbye. Will carries his father into the river where he becomes what he always had been: a very big fish. Edward then dies, knowing his son finally understands his love of storytelling. At the funeral, Will sees many of his father's more unusual friends, including Amos, Karl, Ping and Jing, and Norther Winslow. Will realizes that his father's stories were true, only exaggerated, making Karl a giant (he is, in fact, 7'6") and making Ping and Jing conjoined when they are merely twins. When his own son is born, Will passes on his father's stories, remarking that his father became his stories, allowing him to live forever.

Read more

 
Design by ThemeShift | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Templates | Best Web Hosting