Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 24 Juli 2012

Seorang Sopir Artic

0


Pertama kali mengunjungi tambang, saya kaget luar biasa. Benarkah Sopir Truck Artic itu seorang perempuan? Saya pernah melihat perempuan-perempuan hebat yang melakukan pekerjaan di luar kebiasaan, beberapa diantaranya menjadi tukang cat, kuli bangunan, sopir angkot, presiden dan lain-lain. Tapi, ini sungguh tak pernah terpikirkan. Tahukah apa itu truck Artic? Jika di televisi anda pernah melihat truck besar berwarna kuning yang diameter rodanya mirip kubah mesjid atau lebih tinggi dari pada tiga orang dewasa yang disusun, truck itu dapat mengangkut 20 – 30 ton sekali jalan dan dapat bermanuver di  tanah becek sekalipun tanpa khawatir bannya yang segede Pegulat Sumo ditumpuk sembilan amblas ke dalam tanah.  Truck inilah yang disupiri perempuan.
Setelah berkeliling di Tambang, diketahui bahwa rupanya semua truck Artic dioperatori perempuan. Hampir semua mobil-mobil besar di perusahaan tambang ini termasuk escavator dioperatori perempuan. Dalam sebuah kesempatan di kantor pusat saya bertemu dengan pimpinan divisi alat berat yang menjelaskan bahwa perempuan dipilih karena mereka tidak banyak membuang-buang waktu untuk merokok dan lebih halus dalam berkendara selain juga mobil artic yang ukurannya super besar ini ternyata sangat mudah dikendarai.
Waktu mempertemukan saya dengan seorang sopir artic, perempuan berusia 29 tahun asal Toraja, Sulawesi Selatan. Bertepatan dengan jadwal pulang ke Makassar untuk Wisuda, AF inisial namanya, juga akan pulang ke Toraja. Dia berhenti bekerja. Dengan mobil perusahaan, kami menuju bandara di Banjarmasin. Sepanjang jalan saya bercerita tentang kagetnya saya melihat mobil sebesar itu dikendarai seorang perempuan. Dia juga dengan bangganya bercerita tentang kehebatannya bisa menjadi operator artic.  Di samping sopir, duduk seorang lelaki pendiam yang ternyata merupakan pacar AF. JN inisialnya, dia juga bekerja di perusahaan sebagai sopir mobil biasa. Setelah cukup lama bersama mereka, saya mengetahui bahwa JN ini pendiam karena tidak fasih berbahasa Indonesia, dia orang dayak asli.
Saya baru saja mengalami perpisahan yang cukup menyakitkan dengan keluarga dan orang terkasih ketika pertama berangkat ke Kalimantan dan sekarang harus berada di tengah-tengah latar yang sama, JN & AF akan berpisah mungkin untuk selamanya.
Delapan jam perjalanan ke Bandara seperti biasa cukup melelahkan, tapi itu menjadi delapan jam yang sangat singkat bagi mereka berdua. Diantara singkatnya waktu itu, saya sering mengganggu mereka dengan pertanyaan-pertanyaan nostalgia tentang hubungan mereka. AF akan tertawa kecil jika mengingat pertama kali bertemu dengan JN. Jika jam makan siang tiba, JN akan datang ke Tambang dengan mobil carry pengangkut makanan dan membagikan makanan pada semua orang yang bekerja di Tambang, AF salah satunya. Anda boleh membayangkan seorang istri yang mengantar rantang makanan di jam makan siang kepada suaminya di sawah, tapi ini kondisinya terbalik, Laki-laki yang mengantar makanan untuk perempuan di gersangnya lahan tambang. Begitu setiap hari hingga ada cinta diantara mereka.
Pintu masuk terminal bandara sudah di depan mata, mereka berpelukan untuk terakhir kalinya dan akhirnya berpisah. Saya jalan lebih dulu menuju counter check-in, AF ikut di belakang. Antrian panjang seperti biasa dilewati sekitar 30 menit. Lalu muncul kalimat dari petugas counter yang membuat saya lagi-lagi kaget luar biasa, sambil menunjuk ke arah AF, dia bertanya,”Maaf Pak, Istrinya Hamil berapa bulan? Kalau hamil, Bapak tolong tandatangani surat pernyataan ini….”
Sepanjang jalan tadi kami bertiga bercerita banyak hal tapi tak tahu kalau temanku ini ternyata hamil 4 bulan. Terpaksa saya menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut ganti rugi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada kandungan AF. Untuk sementara, saya yang bertanggung jawab atas perbuatan JN, paling tidak selama perjalanan ke Makassar, sial. “Istrinya jangan ditinggal jauh-jauh ya Pak!”, tambah petugas counter setelah membereskan boarding pass, menambah suram suasana.
Tapi setelah dipikir-pikir, ini adalah kesempatan mendapatkan pahala. Tak tega juga rasanya melihat wajah AF yang selalu berkaca-kaca, mungkin dia malu, mungkin juga dia takut membayangkan betapa beratnya kehidupan yang akan dihadapinya. Sudahlah, saya harus bersikap seperti biasa, menjadi pelayan bagi siapa saja, hitung-hitung latihan menjaga istriku nanti yang juga akan hamil. Semoga temanku ini kuat menghadapi kehidupannya di masa yang akan datang. Kujabat tangannya lalu mengucapkan selamat berpisah di pintu keluar Bandara Hasanuddin, Makassar.

0 comments:

Posting Komentar

 
Design by ThemeShift | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Templates | Best Web Hosting