Jumat, 18 Maret 2011

Kaya' tongko saja Mahasiswa!"... (oknum)

1


"Keadilan sosial... bagi... seluruh... rakyat Indonesia", walaupun terbata-bata, Dia, di umurnya yang belum wajib paham pancasila sudah tuntas menghapal lima dasar negara, berdiri agak kaku dan canggung di depan Ibu dan aku. Dia Adikku, berdiri tersenyum dengan bangga setelah tuntas seluruh kalimat Pancasila dihapalnya. Adikku merasa dengan hapal pancasila, negara ini akan bangga padanya. Dari nafasnya yang menderu dan detak jantungnya yang menggebu, Dia seperti sudah tak sabar ingin melakukan sesuatu untuk negaranya. Baginya menghapal Pancasila merupakan langkah awal untuk selanjutnya Ia akan berbakti pada Ibu pertiwi.

Menghapal Pancasila cukup membanggakan bagi anak seusianya, mengingat di Provinsi ini ada Wakil Bupati yang tak hapal Pancasila.

Read more

Kamis, 09 Desember 2010

Iyapa Upettu Rennu, Usapupi Mesana.

1


Kami sudah lelah, kini bersandar di batang pohon waru, daunnya yang lebat menghindarkan sinar matahari dari kami yang hampir putus asa. Dengan air mata yang terus mengalir, aku hanya bisa mengenang hari itu …

***
Dengan pakaian lengkap daengku berpamitan, tatapan matanya dalam dan penuh kasih sayang. Mencium keningku lalu menatap lagi mataku, kali ini dengan sedikit senyum di bibirnya, aku memandang bibirnya yang bergerak lambat demi menjelaskan padaku cara mengatasi jika rindu datang menyerang, “Narekko maruddaniki’, cengaki’ ri ketengnge Andi’, to siduppa mata”, kata daengku sambil menunduk agar bisa kuletakkan songkok Bone di kepalanya, songkok yang dipakai sejak tahun 1683 oleh pasukan Bone untuk membedakan mereka dalam perang melawan Tator. Kali ini untuk membedakan daengku dengan pasukan Belanda, kupasang songkok di kepalanya dengan menyebut nama Allah.

Read more

Sabtu, 23 Oktober 2010

Tak Beretika Belajar Etika.

0

Tahun 2006, Yahya Zaini dari Fraksi Partai Golkar harus mengundurkan diri dari senayan akibat peredaran video mesumnya dengan penyanyi dangdut Maria Eva. Video syur itu menyebar pada 2006 dan menghebohkan serta membuat geger kalangan wakil rakyat, meski kemudian keduanya mengaku telah menikah siri.

Tahun 2007, Asisten pribadi (Aspri) Max Moein berinisial D, melalui Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) pernah melaporkan kekerasan seksual yang dilakukan Anggota DPR RI fraksi PDIP itu pada 22 Agustus 2007, lengkap dengan kronologis kejadian yang dialami.

Read more

Selasa, 24 Agustus 2010

Miskin, Sama Sepertiku.

0

Ketika anda mengalami ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti Sandang, Pangan, Papan, Pendidikan dan kesehatan, maka layaklah anda disebut Miskin, sama sepertiku. Kemiskinan itu terjadi karena beberapa penyebab, menurut Ensiklopedia, kemiskinan terjadi karena prilaku individu dan pendidikan keluarga, juga bisa disebabkan oleh aksi orang lain, pemerintah, perang dan keadaan ekonomi bahkan ada kemiskinan yang sudah menjadi salah satu struktur sosial. Secara umum dan ringkas diterima bahwa kemiskinan adalah buah dari kemalasan. Semua pengertian itu sulit kupahami dan kuterima di usiaku yang baru 7 tahun, apalagi jika dikatakan bahwa kemiskinan yang kualami ini adalah akibat prilakuku sendiri, apa kesalahan yang dilakukan oleh anak seusiaku yang bisa membuatnya menjadi miskin di usia dini..?

Read more

Jumat, 11 Juni 2010

Alangkah Lucunya Kampung Halamanku

0

Banyak kejadian dan pemberitaan yang menghebohkan yang terjadi belakangan ini di Indonesia kita yang tercinta, ada dana aspirasi, video panas mirip artis, dan Piala Dunia. Tapi di balik hingar-bingar berita besar itu, ada juga berita miris atau lebih kasarnya "MEMALUKAN" yang datang dari Pilkada Kabupaten Soppeng. Enam dari Tujuh cawabup yang maju di Pilkada Soppeng tidak hafal Pancasila. Fakta itu terungkap saat debat terbuka hari terakhir di gedung Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Watansoppeng kemarin.

Read more

Senin, 07 Juni 2010

The Tudor Age (Population Changes)

0

The most potent forces within Tudor England were often social, economic, and demographic ones. Thus if the period became a golden age, it was primarily because of the considerable growth in population that occurred between 1500 and the death of Elizabeth I did not so dangerously exceed the capacity of the available resources, particularly food supplies, as to precipitate a Malthusian crisis. Famine and disease unquestionably disrupted and disturbed the Tudor economy, but they did not raze it to its foundations, as in the fourteenth century. More positively, the increased manpower and demand that sprang from rising population stimulated economic growth and the commercialization of agriculture, encouraged trade and urban renewal, inspired a housing revolution, enhanced the sophistication of English manner, especially in London, and (more arguably) bolstered new and exciting attitudes among Tudor Englishmen, notably individualistic ones derived from reformation ideals and Calvinist theology.

Read more

Rabu, 12 Mei 2010

Kisah Fiktif Belaka

0

Belum lama ini ada sebuah iklan layanan masyarakat di televisi yang menggambarkan adegan dua orang sahabat, yang pertama seorang pengusaha, sebut saja namanya Andi Kosangsi, pengusaha sukses ini pandai memanfaatkan peluang, Bahkan ketika para pegawai Direktorat Jenderal Pajak mendatanginya dengan lembaran tagihan senilai ratusan milyar rupiah, dia mengelak dan meminta tenggat waktu pembayaran.

Andi Kosangsi senyum puas ketika memory otaknya mengingat sebuah nama, Gayus Hamburan, teman sekolahnya seperjuangan yang kini bekerja di Ditjen Pajak. Dulu ketika sekolah, mereka berdua sangat akrab, berangkat sekolah bersama, membolos bersama, pulang bersama, bahkan mengincar cewek yang sama...

Singkat cerita, Andi Kosangsi menemui Gayus di kantornya, ruangan Gayus cukup besar, di salah satu dindingnya ada gambar Garuda Pancasila, simetris di bawahnya ada gambar Presiden SBY dan wakilnya, Boediono. Lebih di bawah lagi ada foto istri dan anak gayus serta foto dua orang bersahabat ini ketika sekolah dulu, tampak di foto mereka berdua berangkulan dengan baju SMU yang tercorat-coret cat semprot dan spidol, nyatalah foto itu diambil ketika habis UN.
selanjutnya terjadilah percakapan yang sering kita dengar di televisi...

“Kawan, kemarin aku diperiksa anak buahmu, pajaknya gede banget... Tapi... Bisa diatur kan???”, Andi Kosangsi dengan santainya berbicara.

Gayus tampak bimbang ketika memilih kata-kata untuk menjawab permintaan temannya itu, ia teringat ketika diambil sumpah jabatannya untuk mengabdi kepada Negara tanpa KKN. Di sisi lain ia juga ingat persahabatannya yang indah bagaikan kepompong dan siap menjadi kupu-kupu....

Masih ingatkah kelanjutan kisah Iklan pajak ini??? Mari kita belokkan sedikit... ingat, kisah ini mudah-mudahan hanya fiktif belaka...!!!

Gayus pun mengangguk mengiyakan permintaan sahabatnya,
“Gampang di atur itu kawan, asal persenannya cocok, 28 M cocoklah..!!!”, ucap Gayus.

kembali mereka berangkulan seperti di foto yang melekat makin erat di dinding kantor, yang jatuh ke lantai kemudian pecah adalah gambar Garuda Pancasila, dasar negara itu lagi-lagi dikhianati oleh perampok yang belakangan lebih sering di sebut Oknum. Hebatnya lagi, dua foto yang simetris di bawah tempat gambar garuda pancasila itu tadi tergantung, malah senyum makin manis...

Mari, kita membayar pajak tepat pada waktunya, dan menyampaikan SPT penghasilan sebelum 30 april 2010, karena alasan efisiensi, blanko SPT tidak lagi dikirim ke alamat wajib pajak, melainkan dapat diambil di Kantor Pelayanan Pajak terdekat atau di akses di Situs Direktorat Jenderal Pajak . Pajak anda membangun bangsa.

Jangan lupa berdoa agar negara ini dibersihkan dari persahabatan yang merugikan rakyat. Amin ya Allah... Amin.

Iklan layanan Masyarakat ini ditutup dengan slogan, “Hari gini gak bayar pajak?, apa kata dunia?”...

Read more

Kamis, 15 April 2010

Bubarkan Satpol PP

0

Seorang teman pernah berkisah tentang Oknum Satpol PP yang ditilang oleh Polisi lalu lintas karena tidak memakai helm, seperti tilang-tilang biasanya, terjadi percakapan antar keduanya.
“Pak, saya seharusnya tidak ditilang, masa’ jeruk minum jeruk!” kata si Satpol PP.
“Oh, maaf pak, saya tidak tau kalo bapak juga anggota kepolisian”, kata Polantas.
“Bapak dari kesatuan mana?”, Polantas melanjutkan percakapan.
Tiba-tiba wajah Oknum Satpol PP itu memerah, kemudian agak malu membisikkan sesuatu kepada Polantas,
“dari kesatuan Polisi Pamong Praja pak!”
“hahahahaha”, Polantas tertawa, ”kah Jeruk Nipis jeki’ paeng”…

(April Mop)…

Read more

 
Design by ThemeShift | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Templates | Best Web Hosting