Tampilkan postingan dengan label Share. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Share. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juni 2012

Melihat ke Langit, di antara Bintang-Bintang

0


Ada sedikit pengalaman naik perahu sebelum ini. Beberapa di antaranya adalah naik perahu di Perairan Makassar menuju Pulau Kayangan, perahu katinting di sungai Walannae yang dangkal saat kemarau,  dan perahu sempit yang bergoyang hebat saat menyusuri danau tempe. Sedikit bukan? Satu lagi, Boom Boom Boat di Genting Highland. Naik perahu, menurutku adalah kegiatan yang cukup menakutkan mengingat berenang adalah kegiatan yang tak bisa kulakukan. Ditimbang-timbang, mungkin lebih baik belajar terbang ketimbang berenang. Hari ke dua di Pulau Kalimantan, terpaksa harus menyusuri sungai Barito, salah satu yang terbesar di Indonesia.

Hanya 1% dari panjang sungai barito yang mencapai 900 km yang harus dilalui hari ini untuk menuju ke Pelabuhan Batu Bara milik PT. SEM yang berada di Desa Telang Baru, Kabupaten Barito Timur. Sungai panjang berkelok-kelok dengan air keruh kecoklatan akibat limbah para penambang batubara itu cukup tenang mengkilat-kilat dipantuli cahaya matahari. 

Yang unik adalah perahunya, speed boat kata orang lokal. kami berlima, AJD, AJ, FMN, ARW menumpang perahu milik Kepolisian setempat, namun entah karena penumpang kelas berat atau mesin yang mulai karat, perahu ini sama sekali jauh dari gambaran sebuah speed boat yang cepat seperti berlari di atas air. Perahu milik polisi ini merangkak seperti baru belajar jalan dan nyaris kehabisan energi.

Sungai Barito dulunya adalah jalur transportasi utama di daerah ini. Walau mulai terkikis jalan aspal, sungai dan perahu masih merupakan moda transportasi andalan bagi warga masyarakat bantaran sungai terlebih lagi para pengusaha tambang yang mengirim batubara dengan kapal tongkang melalui sungai ini. Kapal tongkang besar milik para penambang dianggap mencemari sungai yang makin hari semakin keruh. Di sekitar kapal itulah perahu kami merangkak pelan seakan memberikan kami kesempatan untuk melihat kehidupan bantaran sungai. Kiri kanan terlihat perkampungan terapung milik warga setempat menghadap ke arah sungai lengkap dengan kios kelontong sampai penjual pulsa. Mandi, mencuci, dan buang air kecil sampai besar semuanya dilakukan di depan rumah. limbahnya langsung nyemplung ke sungai. Saking banyaknya perkampungan demikian, tiba-tiba aku berpikir, kapal tongkangkah yang memperkeruh air sungai, atau kah sesuatu yang nyemplung tadi?

Perahu milik polisi sudah menyerah, kapten perahunya mentransfer kami ke perahu milik warga yang kebetulan lewat di sebelah kami. Terjadilah adegan seperti  di film-film luar angkasa, astronot pesawat ulang alik di transfer ke pesawat lainnya karena masalah teknis. ini bukan luar angkasa, tapi ini tepat di tengah sungai barito, salah satu yang terbesar dan terpanjang di Indonesia. perahu terguncang seperti disambar asteroid ketika penumpang kelas berat menyeberang ke perahu sebelah. Aku tidak bisa berenang tapi beruntung masih bisa menyeberang.

Perjalanan berlanjut dengan perahu milik warga yang kali ini benar-benar sebuah Speed Boat. speed boad yang nyentrik kalau boleh saya tambahkan. Kecepatan yang tinggi membuat mesin  meraung keras memekakkan telinga tapi pemilik perahu ini masih sempat memasang tape dengan speaker KW 2 yang mengalunkan lagu dangdut asli yang lembut dan sangat tidak sinkron dengan kecepatan dan guncangan speed boat ini. Yang lebih nyentrik lagi, perahu ini juga dilengkapi dengan pengharum mobil mahal merek Ambiphur Car padahal perahu ini terbuka kiri kanan. Wangi Ambiphur Car melayang sia-sia. Terlepas dari itu, perahu ini benar-benar cepat hingga tak terasa kami telah sampai ke pelabuhan batubara milik PT. SEM.

Setelah meeting seharian, tiba waktunya pulang. perahu warga yang tadi sudah menunggu. Malam menampakkan bintang-bintang di langit dengan belaian angin malam yang lembut karena perahu tak boleh ngebut lagi di malam hari. Aku hanya melihat ke langit, di antara bintang-bintang, ada senyum mu menemani perjumpaan dan perkenalan awalku dengan Bumi Kalimantan.

Read more

Sabtu, 14 Januari 2012

Penting, Milikilah e-KTP.

0

Sudahkan anda membuat e-KTP?  Atau mungkin anda belum menerima undangan untuk membuat e-KTP di kantor kecamatan masing-masing? Segeralah daftarkan diri anda untuk memiliki Kartu Tanda Penduduk generasi terbaru yang berlaku secara nasional, jadi anda tidak perlu membuat KTP lokal untuk memperoleh perizinan di suatu daerah. Contoh manfaat e-KTP ini salah satunya adalah anda bisa membuka rekening bank di sebuah daerah tanpa harus menjadi penduduk daerah tersebut.

Proses pembuatannya kurang lebih sama dengan generasi sebelumnya namun lebih banyak menggunakan komputerisasi dalam proses perekaman datanya. Data yang diambil adalah sidik jari, rekaman retina mata, foto wajah dan tanda tangan. Data-data itu kemudian disimpan ke dalam database nasional. Maka kelak jika program e-KTP telah selesai, tidak akan ada lagi seseorang di Negara ini yang memiliki lebih dari satu Kartu Tanda Penduduk.

Pemerintah menargetkan program e-KTP ini selesai sesegera mungkin, maka jangan heran jika belakangan ini seluruh kantor kecamatan penuh sesak dengan antrian masyarakat yang ingin membuat e-KTP. Antrian ini pulalah yang membuatku berterima kasih pada pemerintah.

Antrian panjang, seperti hari itu, bersama sekitar 300 kepala keluarga dari kelurahan yang sama denganku. Ada yang datang sejak subuh, tidak sedikit yang mengeluh mengenai terbuangnya waktu untuk mengantri, mengeluh mengenai pelayanan yang lambat dan tidak professional, mengeluh mengenai cuaca yang selalu berubah-ubah. 

Ingatlah kawan salah satu tipikal orang Indonesia, memulai percakapan dengan sebuah keluhan. Biasanya orang yang tidak saling mengenal akan memulai perbincangan dengan mengeluh, seperti seorang bapak di sebelahku, “Musim hujan tapi kalo ada matahari, panas sekali rasanya”, katanya kepada bapak lainnya. “Ededeh,  gara-gara antri begini, ndak adami yang antar anakku ke sekolah”, seorang ibu dongkol. “Lamanya pelayanannya ini deh”, seorang pemuda menggerutu. Tapi setelah itu, semuanya mulai akrab saling berbagi cerita. Kawan, selain berbagi rokok, bercerita tentang sepakbola, politik dan humor, mengeluh juga terbukti ampuh untuk memulai suatu perbincangan. Antrian panjang, ini akan memakan waktu yang lama tapi aku sangat bersyukur. Walaupun sangat jarang, kali ini aku harus berterima kasih pada pemerintah.

Dari sekitar 700 orang yang berkumpul di halaman kantor kecamatan, aku hanya mengenal sekitar 10% diantaranya padahal semua adalah tetanggaku, satu kelurahan denganku. Karena itulah aku berterima kasih pada pemerintah yang telah mengumpulkan kami dari segalama macam latar belakang yang berbeda-beda di sebuah pagi yang cerah walau musim sedang tidak bersahabat. Jika ini di kampong, pasti semua orang sudah saling mengenal dan antrian semacam ini akan menjadi kegiatan yang paling menyenangkan. Dengan segala kesibukan kota, antrian semacam ini menjadi kegiatan untuk mulai mengenal para tetangga dan membuatnya menjadi menyenangkan. Penting, milikilah e-KTP dan nikmati proses pembuatannya.

Entah karena pelayanannya yang memang lambat atau jumlah warga yang terlalu banyak, aku baru selesai pada pukul 13.30 setelah 6 jam mengantri dan saling mengenal satu sama lain. Aku pulang setelah meningkatkan jumlah kenalan di antara para tetanggaku itu menjadi sekitar 20%. Jika ada lagi antrian seperti ini yang dibuat pemerintah, dengan senang hati akan kuhadiri. Dengan saling mengenal, semoga hidup kita yang singkat ini menjadi lebih bermakna. Seperti kata Ralph Waldo Emerson, “Its not the length of life, but depth of life”.

Read more

Minggu, 25 Desember 2011

Pesan Sang Ibu

0

 
5 tahun sudah ketika pertama kali kami diperdengarkan pada sebuah pesan, pesan yang disampaikan dengan backsound sebuah lagu, lagu yang semua Mahasiswa Indonesia pasti pernah mendengarnya. Sebuah lagu yang wajib dinyanyikan oleh Mahasiswa dan yakinlah, pesan dalam lagu ini akan membuat semua yang menyanyikan dan mendengarnya, Merinding...




Pesan Sang Ibu

Tatkala aku menyarungkan pedang
dan bersimpuh di atas pangkuanmu
tertumpah rasa kerinduanku pada sang ibu
tangannya yg halus mulus membelai kepalaku
bergetar seluruh jiwa ragaku
musnahlah seluruh api semangat juangku
namun sang ibu berkata…

“anakku sayang apabila kakimu sudah melangkah di tengah padang
tancapkanlah kakimu dalam-dalam
dan tetaplah terus bergumam
sebab gumam adalah mantera dari dewa-dewa
gumam mengandung ribuan makna
apabila gumam sudah menyatu dengan jiwa raga
maka gumam akan berubah menjadi teriakan-teriakan
yang nantinya akan berubah menjadi gelombang salju yang besar
yang nantinya akan mampu merobohkan istana yg penuh kepalsuan
gedung-gedung yg dihuni kaum munafik"

"tatanan negeri ini sudah hancur anakku
dihancurkan oleh penguasa sang negeri ini
mereka hanya bisa bersolek di depan kaca
tapi membiarkan punggungnya penuh noda
dan penuh lendir hitam yang baunya kemana-mana
mereka selalu menyemprot kemaluannya dengan parfum luar negeri
diluar berbau wangi didalam penuh dengan bakteri
dan hebatnya penguasa sang negeri ini
pandai bermain akrobat
tubuhnya mampu dilipat-lipat yg akhirnya pantat
& kemaluannya sendiri mampu dijilat"

"anakku.. apabila pedang sudah kau cabut janganlah surut..
janganlah bicara soal menang dan kalah
sebab menang dan kalah hanyalah mimpi-mimpi
mimpi-mimpi muncul dari sebuah keinginnan
keinginan hanyalah sebuah kayalan yg hanya akan melahirkan harta
& kekuasaan harta dan kekuasaan hanyalah balon-balon sabun yg terbang di udara
anakku asahlah pedangmu ajaklah mereka bertarung di tengah padang
lalu tusukan pedangmu ditengah-tengah selangkangan mereka
biarkan darah tertumpah di negeri ini
satukan gumam-mu menjadi revolusi…"


Sebagian dari kami bahkan sampai menagis mendengar pesan itu, terbayang wajah Ibu-ibu kami, yang melahirkan dan membesarkan kami, dengan ikhlas melepaskan kami ke dunia yang penuh dengan kegelisahan, Ke Negeri yang tatanannya sudah di hancurkan oleh penguasa.  

Seiring dengan berakhirnya "Pesan Sang Ibu", hari itu kami berjanji, Apabila pedang sudah tercabut, tak akan pernah kami surut. Kami akan terus mengasah pedang dan menusukkannya ke tengah-tengah selangkangan para Penguasa yang hanya bisa bersolek di depan kaca tapi membiarkan punggungnya penuh noda dan penuh lendir hitam yang baunya kemana-mana...

Di sini negeri kami
tempat padi terhampar luas
samuderanya kaya raya
tanah kami subur, Tuhan.

Di negeri permai ini

berjuta rakyat bersimbah luka
anak kurus tak sekolah
pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya

tergusur dan lapar

Bunda, relakan darah juang kami

tuk membebaskan rakyat

padamu kami berjanji

padamu kami berbakti
tuk membebaskan rakyat






Read more

Senin, 22 Agustus 2011

Korupsi Mempersatukan Indonesia

0

Dia, bergerak seperti bola salju, terus membesar ketika dia menggelinding. Sampai suatu saat dia membukit lalu kita menerimanya sebagai fenomena alam yang tak terhindarkan, dan hidup bersamanya sepanjang waktu. 

Setelah gaji kita yang mencekik dipotong pajak, Karcis bioskop yang makin mahal dipungut bea, Asap rokok yang mulai pahit tercemar tingginya tarif cukai, Saudara TKI kita yang menyetor devisa dari luar negeri, Migas & nonmigas dikeruk lalu dijual, Hibah dan Utang luar negeri, maka terkumpul penerimaan negara sebesar Rp1.086,4 triliun APBN. Ke mana uang itu diperuntukkan?

Busyro Muqoddas menjawab pertanyaan itu dengan sangat baik, Potensi kerugian negara atas kasus korupsi pembayaran pajak sebesar Rp 50 miliar, Pendidikan lebih dari Rp 204,2 miliar, Kesehatan lebih dari Rp113,4 miliar, dan Infrastruktur lebih dari Rp 597,5 miliar. Selain itu, Kehutanan lebih dari Rp 2,3 triliun, Migas lebih dari Rp 40,1 triliun, Keuangan Daerah lebih dari Rp 1,3 triliun, dan Perbankan lebih Rp 1,8 triliun. Pelaku yang sedang ditangani KPK tambah Busyro Muqoddas terdiri dari hakim (1), duta besar (4), kepala lembaga dan kementerian (6), komisioner (7), gubernur (8), wali kota dan bupati (22), lain-lain (26), anggota DPR dan DPRD (43), swasta (44), pejabat eselon I, II, serta III (84). Parahnya lagi yang dikorupsi bukan cuma APBN tapi juga APBD, artinya, uang parkir kita juga disikat.

Ini Korupsi berjamaah, maka benar kata Karl Kraus, pengarang dan wartawan Austria abad 19, "Korupsi itu lebih hina daripada Prostitusi, Prostitusi hanya merusak moral pribadi, tapi korupsi merusak moral sebuah bangsa". Tapi judul artikel ini adalah "Korupsi Mempersatukan Indonesia", bagaimana bisa?

Nazaruddin mewakili Partai Politik, Gayus Tambunan mewakili Perpajakan, Syarifuddin mewakili hakim, M. Slamet Hidayat mewakili duta besar, Syamsul Arifin mewakili Gubernur dan masih banyak lagi yang mewakili hampir semua lembaga di Indonesia. Walaupun berbeda suku, agama, Ras dan kepercayaan, mereka disatukan oleh sebuah kata "korupsi".

Tawar menawar kepentingan politik di tingkat pusat hingga daerah membuat elit-elit pemimpin negara ini makin mesra, makin bersahabat dan makin bahu membahu menyembunyikan kejahatan. Nazaruddin pun coba tawar menawar dengan Presiden, "Saya minta sama Pak SBY, jangan ganggu anak istri saya. Saya enggak akan ngomong apa-apa, saya lupa semuanya, saya enggak tau apa-apa," tutur Nazaruddin. 

Indonesia memang bersatu di bawah Bhineka Tunggal Ika, tapi ketika jalanan makin berlubang, jembatan banyak yang putus, kereta api hanya ada di wilayah barat, kapal feri sudah berkarat, pesawat udara banyak yang bekas, keadilan yang timpang dimana-mana, yang kaya makin sejahtera, yang miskin makin melarat,  sepakbola tak sanggup menyatukan kita, agama mulai diperalat. Ketika darat dan laut sepertinya mulai enggan bersatu, jangan khawatir karena Dia, Korupsi, bergerak seperti bola salju, terus membesar ketika dia menggelinding. Sampai suatu saat dia membukit lalu kita menerimanya sebagai fenomena alam yang tak terhindarkan, dan hidup bersamanya sepanjang waktu.

Meski harus dimusnahkan, meski memalukan, kita semua telah mencoba dan pada waktunya nanti perlawanan terhadap korupsi di Indonesia akan menemukan cahaya di ujung lorong yang gelap, tapi saat ini, Korupsi Mempersatukan Indonesia.

Read more

Jumat, 12 Agustus 2011

Apa arti namaku sesungguhnya?

0

Andai saja kita semua yang membaca tulisan ini masuk surga dengan kadar pahala yang sama, diriwayatkan bahwa di pintu surga itu akan ada antrian, Maka yang paling pertama masuk adalah mereka yang menggunakan nama-nama Allah SWT dibelakang namanya. Beruntunglah mereka yang memiliki nama Abdul Rahman, Abdul Rahim, Abdul Malik, dan nama-nama lain-Nya yang indah (asmaul husna).

Di belakang mereka, akan masuk berikutnya orang-orang yang memakai nama-nama Nabi & Rasul. Melengganglah mereka yang bernama Muhammad Yusuf, Yunus, Daud, Ibrahim dan lain-lain. yang melangkah masuk berikutnya adalah mereka yang menggunakan nama sahabat misalnya Abdullah,’Urwah, Hamzah, Ja’far, Mush’ab, ‘Ubaidah, Kholid, ‘Umar, dan Mundzir.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tak punya arti dari namanya? mereka akan masuk setelah ketiga golongan di atas. Syukurlah, karena masih ada yang masih harus antri lebih dibelakang, yaitu mereka yang memiliki arti yang buruk dari namanya, La Paddoca' (pengacau) mungkin wajar dijadikan contoh.

Namun bukan berarti menggunakan Nama Allah SWT, lalu nama Nabi & Rasul, kemudian nama Sahabat akan dijamin masuk surga, jika berdosa, pemakai nama itu juga berada pada antrian terdepan di pintu neraka.

Juga ada orang tua yang memberikan nama untuk anaknya sesuai dengan apa yang diidolakannya. Kalau kita bertemu dengan seorang anak bernama Inul, pasti kita berpikiran bahwa orang tuanya pasti penggemar "ngebor", Maradona berarti ayahnya penggemar bola, Rambo berarti ayahnya suka film perang, dan Miyabi berarti ayahnya suka film???

Memberi nama anak, di dalam Islam mendapat perhatian yang cukup besar. Karena nama merupakan identitas diri dan sarana untuk saling memahami dalam berkomunikasi dengan orang lain. Nama, bagi seorang bayi yang dilahirkan merupakan hiasan, tumpuan dan sekaligus syi'ar yang dengannya ia dipangggil ketika di dunia maupun di akhirat.

Nama meskipun hanya sesuatu yang bersifat maknawi tetapi memiliki nilai yang amat tinggi melebihi materi. Sehingga orang akan lebih menjaga nama daripada hartanya, jangan sampai namanya direndahkan, ditentang atau dimusuhi.

Islam sangat menganjurkan agar memberi nama anak dengan nama yang baik, karena pada umumnya nama memiliki pengaruh terhadap seseorang yang memilikinya, dalam baik ataupun buruknya. Dia merupakan cerminan pemikiran orang tua, apakah dia seorang yang selamat dan mengikuti petunjuk Nabi saw atau memiliki pemikiran- pemikiran yang tercemar dan bahkan menyimpang.

Kewajiban seorang Bapak pada anaknya yang pertama adalah memberikan nama yang baik. Hadist Rasulullah saw, menerangkan bahwa"Sebagian dari pada kewajiban ayah terhadap anaknya, ialah beri dia nama yang baik, ajari dia menulis, dan kawinkan dia apabila ia baligh". (HR. Ibnu Najjar).

Atas perintah inilah, Bapak saya memberi nama "Saefuddin Muslimin" dengan harapan saya bisa menjadi (سيفl) pedang bagi (الدين) agama. Harapan itu sekaligus menjadi beban walaupun beban itu lebih masuk akal ketimbang harus menjadi Maradona misalnya, Lalu bagaimana dengan nama anda?

Read more

Senin, 08 Agustus 2011

Berbagilah!

0

Rasulullah SAW pernah berkata, bahwa setiap masuk pagi, ada dua malaikat mengajukan permohonan mereka kepada Allah SWT. Malaikat pertama berdoa:”Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang menginfaqkan hartanya”. Yang kedua berdoa:” Ya Allah jadikanlah semakin tidak punya orang yang pelit terhadap hartanya.”.

Berikut sebuah kisah untuk kita renungkan :

Dahulu kala ada seorang Imam yang bernama Hasan Basri. Suatu hari ia kedatangan enam orang tamu. Namun sayangnya ia hanya mempunyai sebuah roti untuk disuguhkan. Tentu saja tak mungkin membagi sebuah roti itu untuk keenam tamunya. Tidak mau pusing, sang imam lantas memerintahkan pembantunya untuk menyedekahkan roti itu pada tetangganya yang lebih membutuhkan. Tak lama kemudian datanglah seorang tamu lagi sambil membawa dua buah roti untuk Hasan Basri, tapi ditolaknya!

“Roti ini pasti salah alamat, ini bukan untukku.” Jawab imam singkat, membuat tamu yang membawa roti tadi bingung dan pulang. Pembantu sang imam lantas bertanya, mengapa ia yakin sekali roti itu bukan untuknya.

“Karena kalau roti itu memang untukku, jumlahnya pasti sepuluh, bukan dua!” jawabnya lagi dengan tenang. Di tengah keheranan si pembantu, tamu yang membawa roti tadi kembali, kali ini telah menambahkan roti hadiahnya menjadi sepuluh buah. Rupanya sebelum pulang tadi, ia sempat mengetahui kalau sang imam sedang kedatangan tamu.

“Nah, ini benar untukku,” terima imam dengan senang hati. Maka kesepuluh roti tadi dibagikan kepada keenam tamunya, pembantunya, seorang anaknya, dan dua sisanya disimpan.

Dari kisah tersebut Allah telah menunjukkan betapa maha kayanya Dia. Tengoklah surat Al An’aam ayat 160 yang berbunyi, “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).”

Napoleon Bonaparte (1769) pun mengingatkan pada kaum berada bahwa saling berbagilah!, sebab menurutnya, “hanya itulah satu-satunya alasan yang menghalangi orang-orang miskin membantai orang-orang kaya”.

Jadi, Tunggu apa lagi..!

Read more

Jumat, 18 Maret 2011

Kaya' tongko saja Mahasiswa!"... (oknum)

1


"Keadilan sosial... bagi... seluruh... rakyat Indonesia", walaupun terbata-bata, Dia, di umurnya yang belum wajib paham pancasila sudah tuntas menghapal lima dasar negara, berdiri agak kaku dan canggung di depan Ibu dan aku. Dia Adikku, berdiri tersenyum dengan bangga setelah tuntas seluruh kalimat Pancasila dihapalnya. Adikku merasa dengan hapal pancasila, negara ini akan bangga padanya. Dari nafasnya yang menderu dan detak jantungnya yang menggebu, Dia seperti sudah tak sabar ingin melakukan sesuatu untuk negaranya. Baginya menghapal Pancasila merupakan langkah awal untuk selanjutnya Ia akan berbakti pada Ibu pertiwi.

Menghapal Pancasila cukup membanggakan bagi anak seusianya, mengingat di Provinsi ini ada Wakil Bupati yang tak hapal Pancasila.

Read more

Selasa, 24 Agustus 2010

Miskin, Sama Sepertiku.

0

Ketika anda mengalami ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti Sandang, Pangan, Papan, Pendidikan dan kesehatan, maka layaklah anda disebut Miskin, sama sepertiku. Kemiskinan itu terjadi karena beberapa penyebab, menurut Ensiklopedia, kemiskinan terjadi karena prilaku individu dan pendidikan keluarga, juga bisa disebabkan oleh aksi orang lain, pemerintah, perang dan keadaan ekonomi bahkan ada kemiskinan yang sudah menjadi salah satu struktur sosial. Secara umum dan ringkas diterima bahwa kemiskinan adalah buah dari kemalasan. Semua pengertian itu sulit kupahami dan kuterima di usiaku yang baru 7 tahun, apalagi jika dikatakan bahwa kemiskinan yang kualami ini adalah akibat prilakuku sendiri, apa kesalahan yang dilakukan oleh anak seusiaku yang bisa membuatnya menjadi miskin di usia dini..?

Read more

Rabu, 12 Mei 2010

Kisah Fiktif Belaka

0

Belum lama ini ada sebuah iklan layanan masyarakat di televisi yang menggambarkan adegan dua orang sahabat, yang pertama seorang pengusaha, sebut saja namanya Andi Kosangsi, pengusaha sukses ini pandai memanfaatkan peluang, Bahkan ketika para pegawai Direktorat Jenderal Pajak mendatanginya dengan lembaran tagihan senilai ratusan milyar rupiah, dia mengelak dan meminta tenggat waktu pembayaran.

Andi Kosangsi senyum puas ketika memory otaknya mengingat sebuah nama, Gayus Hamburan, teman sekolahnya seperjuangan yang kini bekerja di Ditjen Pajak. Dulu ketika sekolah, mereka berdua sangat akrab, berangkat sekolah bersama, membolos bersama, pulang bersama, bahkan mengincar cewek yang sama...

Singkat cerita, Andi Kosangsi menemui Gayus di kantornya, ruangan Gayus cukup besar, di salah satu dindingnya ada gambar Garuda Pancasila, simetris di bawahnya ada gambar Presiden SBY dan wakilnya, Boediono. Lebih di bawah lagi ada foto istri dan anak gayus serta foto dua orang bersahabat ini ketika sekolah dulu, tampak di foto mereka berdua berangkulan dengan baju SMU yang tercorat-coret cat semprot dan spidol, nyatalah foto itu diambil ketika habis UN.
selanjutnya terjadilah percakapan yang sering kita dengar di televisi...

“Kawan, kemarin aku diperiksa anak buahmu, pajaknya gede banget... Tapi... Bisa diatur kan???”, Andi Kosangsi dengan santainya berbicara.

Gayus tampak bimbang ketika memilih kata-kata untuk menjawab permintaan temannya itu, ia teringat ketika diambil sumpah jabatannya untuk mengabdi kepada Negara tanpa KKN. Di sisi lain ia juga ingat persahabatannya yang indah bagaikan kepompong dan siap menjadi kupu-kupu....

Masih ingatkah kelanjutan kisah Iklan pajak ini??? Mari kita belokkan sedikit... ingat, kisah ini mudah-mudahan hanya fiktif belaka...!!!

Gayus pun mengangguk mengiyakan permintaan sahabatnya,
“Gampang di atur itu kawan, asal persenannya cocok, 28 M cocoklah..!!!”, ucap Gayus.

kembali mereka berangkulan seperti di foto yang melekat makin erat di dinding kantor, yang jatuh ke lantai kemudian pecah adalah gambar Garuda Pancasila, dasar negara itu lagi-lagi dikhianati oleh perampok yang belakangan lebih sering di sebut Oknum. Hebatnya lagi, dua foto yang simetris di bawah tempat gambar garuda pancasila itu tadi tergantung, malah senyum makin manis...

Mari, kita membayar pajak tepat pada waktunya, dan menyampaikan SPT penghasilan sebelum 30 april 2010, karena alasan efisiensi, blanko SPT tidak lagi dikirim ke alamat wajib pajak, melainkan dapat diambil di Kantor Pelayanan Pajak terdekat atau di akses di Situs Direktorat Jenderal Pajak . Pajak anda membangun bangsa.

Jangan lupa berdoa agar negara ini dibersihkan dari persahabatan yang merugikan rakyat. Amin ya Allah... Amin.

Iklan layanan Masyarakat ini ditutup dengan slogan, “Hari gini gak bayar pajak?, apa kata dunia?”...

Read more

Sabtu, 03 April 2010

Tak Boleh Jatuh

3

Di atas tiang bambu lapuk di salah satu sudut lapangan, Bendera merah putih tergantung malas tak berkibar, melambai lambat seiring pelannya pertumbuhan perekonomian Negara… Bendera Indonesia memiliki makna filosofis. Merah berarti berani, putih berarti suci. Merah melambangkan tubuh manusia, sedangkan putih melambangkan jiwa manusia. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan untuk Indonesia.

******

Sadikin malangkah gontai menyusuri trotoar jalan protokol, rambutnya acak-acakan, dia tampak terbebani oleh masalah berat. Uang seratusan ribu 16 lembar yang dibawanya belum cukup untuk mengeluarkan istri dan anaknya yang baru lahir dari rumah sakit pasca pesalinan.

Sebelumnya, Sadikin bingung apakah akan memiih memasukkan istri tercintanya ke Rumah Sakit untuk melahirkan atau di rumah saja dengan bantuan “orang pintar”. Sejenak dia memandangi wanita itu, teringat waktu-waktu yang telah dilalui bersamanya, 7 tahun berkeluarga akhirnya diberi amanah dalam rahim. Wanita cantik itu tersenyum pada suaminya, “Kalau tidak punya uang, di rumah saja Pa, aku pasti kuat”, jangan memaksakan keadaan…


Sadikin tersenyum, air mata ia tahan agar jangan keluar melewati pelupuk, dipandanginya lagi wanita cantik itu, kepalanya didekatkan ke perut istrinya yang membesar buncit, ada gerakan kecil di dalam sana. “Sabar ya sayang”, Sadikin berbisik lirih, mungkin malu pada janin di perut istrinya. Kali ini istrinya yang tak kuasa membendung air matanya sambil mengelus kepala suaminya tercinta…

Sayang dan bertanggung jawab pada keluarga, Sadikin terpaksa memutuskan bersalin di rumah sakit….

“Semuanya 5 Juta Pak”, kata perawat mengagetkan Sadikin yang tak menyangka biaya persalinan sebesar itu setelah masa pemulihan seminggu. Tak mampu membayar, Sadikin mencoba membicarakan mengenai keringanan biaya pada Direktur Rumah Sakit. Setelah menunggu kesempatan untuk bertemu, akhirnya kini dua lelaki beda nasib itu bertatapan, Sadikin menceritakan pelan-pelan masalah ketidakmampuannya pada Sang Direktur, Responnya jauh melenceng dari harapan, ”Kalau miskin, jangan masuk Rumah Sakit”.

Keluarga kecil ini “ditendang” dari Rumah Sakit karena tak mampu membayar. Tak ada senyum ramah ala perawat ketika mengantarkan pasiennya sampai ke mobil lalu mengucapkan selamat jalan dan semoga selalu sehat, yang ada hanya pandangan sinis melihat ke arah sadikin yang memapah istri tercintanya berjalan tertatih-tatih sambil menggendong anaknya, calon pemimpin bangsa ini…. Tapi tunggu dulu, seorang perawat berjalan mendekati mereka, perawat itu seperti melupakan sesuatu, Uang ratusan ribu 16 lembar yang dipunyai Sadikin masih dalam genggamannya sampai perawat itu merebutnya... tadi dia lupa…

Keluarga ini dikecewakan lagi, diusir oleh Negara yang Presidennya menjanjikan kesehatan gratis… tapi Sadikin tak protes, ia sabar menanti janji ditepati.


Sadikin dan keluarga kecilnya duduk beristirahat di salah satu sudut lapangan, anak dan istrinya masih lemah... angin menjadi kencang ketika mendung menguasai langit, tiang bambu lapuk tak kuat lagi menopang bendera yang kali ini berkibar kencang, bukan mengikuti keadaan ekonomi, tapi karena angin memang kencang. Tiba-tiba bendera itu terlepas melayang ke udara, Sadikin yang memangku anaknya reflex bangkit, sambil menggendong anaknya berlari mengejar bendera Negara Indonesia, merah putih yang terlepas dari tiangnya… cukup jauh dia berlari karena angin kencang menerbangkan bendera kebanggaannya itu jauh. Merah berarti berani, putih berarti suci, sambil berlari dia berdoa agar anak yang digendongnya menjadi berani dan suci, seperti bendera Negaranya yang terbang…

“Bendera itu tak boleh jatuh, Nak!” Sadikin berbicara penuh semangat pada anaknya yang tentu belum paham apa-apa… Ketika bendera tampak akan jatuh ke tanah, sekelebat bayangan bergerak cepat menggapainya… Ayah dan anak itu berhasil mempertahankan bendera Negaranya, Negara yang baru saja menipu dan mengecewakannya…

Mendung akhirnya berubah menjadi hujan, Sadikin meneduhkan anaknya dengan bendera merah putih yang dibentangkan di atas kepalanya, Bendera itu seolah merupakan permintaan maaf Negara ini pada Sadikin dan keluarganya, paling tidak sekedar membantu meneduhkan anak mereka dari derasnya hujan….

Dikejauhan Istri Sadikin tersenyum manis dibawah derasnya hujan, bangga pada suami dan anaknya yang begitu cinta pada Negaranya…

Read more

Rabu, 24 Februari 2010

Bungkus

0

Mawar, berdiri di depan rumah sederhananya yang asri, setelah menutup pagar, ia menanti Ruhut yang kali ini agak terlambat datang menjemputnya. Berkali-kali Mawar memencet tombol HP coba menghubungi kekasih yang memenuhi hati dan hari-harinya, tapi tidak dijawab. Dia agak sial kali ini, pakaian yang dikenakannya terlalu minim untuk menangkal dingin kota Makassar di bulan Januari. Celana pendek hitam atau lazimnya disebut “short pants”, ia padukan dengan “tanktop” warna putih yang membuat ketiak mulusnya terlihat jelas ketika lengannya merapikan poni tipis di kepalanya. Rambut belakangnya diikat agak ke atas sehingga leher putih jenjangnya makin mempesona. Pemandangan indah ini makin enak dipandangi karena kulitnya putih, mulus. Mawar beruntung diberi fisik yang diincar para pria…

Mawar bukannya tidak pernah mendengar ceramah Udztadz di mesjid, dia ingat betul ketika Udztadz bercerita tentang kisah nyata dalam sebuah perjalanan dari Mesir ke Alexandria…

… ada seorang wanita muda berpakaian seksi yang ditegur dengan sopan oleh seorang tua tentang pakaiannya yang akan membahayakan dirinya sendiri dan larangan agama untuk pakaian minim. Respon yang diberikan oleh si wanita muda sangat arogan, “ini bukan urusanmu pak tua”, hardik si wanita, ”Pesankan saja saya tempat di neraka Tuhanmu”. Singkat cerita ketika sampai ke Alexandria, si wanita tampak tertidur pulas, penumpang lain coba membangunkannya, tapi tragis karena Wanita muda itu mati, mati dalam pakaian minimnya setelah memesan neraka…

Mawar tidak menggubris kisah itu, tetap saja gemar berpakaian seksi….


*********

Wajah agak cemberut dia lemparkan pada Ruhut yang baru tiba setelah membuatnya menunggu 30 menit. Dengan senyum yang menawan, Ruhut segera mendamaikan hati Mawar yang akhirnya ikut naik ke motor Kawazaki yang dikendarainya… walaupun baru pacaran seminggu, dua sejoli ini sangat mesra berboncengan, tangan mulus Mawar melingkar di perut Ruhut yang bidang, makin erat Mawar berpelukan karena dingin makin diperparah dengan hujan yang mulai rintik-rintik. Dunia yang seolah milik mereka berdua membuat tukang becak yang nongkrong melihatnya berkata “Nyamanna bura’nea, Ubasmi sedeng!!!...”

Rupanya pakaian minim Mawar bukan cuma menjadi komoditi bagi mata tukang becak, sopir mobil mewah terus melotot di balik kaca yang gelap ketika di lampu merah, ironis karena bukan cuma sopir, tapi juga penumpangnya yang merupakan wakil rakyat pun berdecak agak bernafsu.

Namanya juga laki-laki…

Para Pakar AS meneliti isi kepala pria yang melihat wanita berbusana seronok. Hasilnya, wanita terbayang bukan manusia, maksudnya, mereka menghasilkan penjelasan mengejutkan seputar wanita berpakaian minim yang dilihat oleh kaum pria. Dalam otak lelaki yang memandangnya, gambaran kaum hawa seksi, yang mengenakan baju nyaris telanjang, dikenali bukan lagi sebagai manusia. Tapi mereka dianggap sebagai barang atau benda untuk dipergunakan. Demikian hasil kajian ilmiah terkini tentang perilaku kaum pria dari para ahli di Harvard University.

Hujan mulai deras ketika Ruhut menepikan motornya untuk berteduh di depan sebuah Penginapan yang sepi, makin deras ketika mereka memutuskan untuk masuk ke Penginapan.

Sekedar info bahwa Ruhut juga laki-laki… Semoga Ruhut di gedung DPR hanya mulutnya saja yang kotor, tidak seperti Ruhut Makassar ini yang otaknya juga kotor.

Karena terbawa suasana romantis, dingin dan derasnya godaan setan yang datang sederas hujan di Kota Makassar pada bulan Januari, Mawar ikut saja masuk ke sebuah kamar yang baru saja disewa Ruhut untuk satu hari. Ruhut sebenarnya hanya mengincar tubuh mulus mawar yang selalu diumbarnya, ke kampus, ke mall, kemana saja seksi, cantik sekali... kesempatan selalu datang dengan cara tidak terduga...

Dua sejoli ini mulai bercumbu karena nafsu sudah di ubun-ubun, Mawar sempat ragu, tapi setan terlalu kuat membisikkan godaan kenikmatan dunia. rencana jahat Ruhut membuahkan hasil. Ruhut mulai mencumbu leher jenjang Mawar yang mulus, pakaian terlepas seluruhnya dan tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit (disensor bos, maaf untuk lelaki lale, yg baca ada juga anak-anak hehe)…

Hilang sudah keperawanan yang dititipkan tuhan pada Mawar, yang dititipkan tuhan pada ayah Mawar untuk dijaga, yang dititipkan pada kakak lelakinya Mawar untuk dijamin sampai Mawar laku terjual pada Suaminya nanti…

Kata Bang Napi "waspadalah, kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena kamu berpakaian minim menggoda"....


*********

Untuk adik-adikku, teman-temanku, aku tidak bisa selalu menjagamu dari dekat, maka pakailah pakaian yang bisa menjagamu.........

Seorang guru mengambil setoples permen, kemudian membuka bungkus beberapa diantaranya. Lalu meletakkan lima butir yang sudah terbuka bungkusnya ke tangan kanan, dan lima butir yang masih utuh bumgkusnya ke tangan kiri…
Guru itu menanyakan pada murid-muridnya, ada yang baik, ada yang nakal, ada yang bejat, ada yang sabar dan macam-macamlah keadaan muridnya….
“Pilih permen yang mana?” tanya sang guru…
“yang masih utuh bungkusnya” jawab semua murid serempak…
“kenapa?” tanya sang guru lagi…
“karena masih bersih”, jawab muridnya…

Maka untuk adik-adikku, teman-temanku, yakinlah bahwa semua laki-laki, mulai dari yang baik, yang nakal, yang sabar dan bermacam-macam yang lainnya, akan memilih istri yang masih bersih…



Read more

Pinggir Jalan Samping Kanal

0

Futsal adalah permainan bola yang dimainkan oleh dua tim, yang masing-masing beranggotakan lima orang. Tujuannya adalah memasukkan bola ke gawang lawan, dengan memanipulasi bola dengan kaki. Selain lima pemain utama, setiap regu juga diizinkan memiliki pemain cadangan. "futsal" berasal dari kata Spanyol atau Portugis, football dan sala. Lapangannya dilapisi rumput sintetis ataupun vyneels, untuk membuat lapangan ini lengkap dengan segala fasilitasnya, sangat mahal.


Sore ini, di pinggir jalan samping kanal, sekumpulan bocah bermain Futsal, tidak di atas rumput sintetis ataupun vyneels yang tak mampu mereka sewa, di sini penuh dengan debu yang berpisah dari tanah merah, dekat dengan jalanan di sisi kirinya, dan kanal di kanannya. Aco yang badannya paling kecil membawa bola dengan gaya samba, sontek sedikit ke arah Wawan yang tak terkawal, kurang tenang, bola tendangan Wawan mampu diamankan Jono, sang kiper. Mereka semua berlarian penuh semangat, debu dan deru kendaraan tak menghalangi tajamnya pandangan. Panasnya kota Makassar tak mampu mendinginkan semangat mereka.

Nasib bocah-bocah seperti mereka ini makin sial saja setelah Lapangan Karebosi, alun-alun kota Makassar di Revitalisasi. Tidak ada lagi yang gratis, parkir pun mahal. Karebosi yang dulu ramah untuk anak-anak sekolah, anak jalanan, orang dewasa, bahkan waria, kini terlalu angkuh kelihatannya. Di sudut Utara, sebuah patung besar yang menggambarkan sosok Ramang sedang mengontrol bola terpampang dengan gagahnya. Ramang adalah sosok kebanggaan kota Makassar dan Sulawesi Selatan. Salah satu pemain bola terbesar yang pernah dilahirkan oleh kota ini, kini tinggal Kenangan.
Tak ada lapangan, mereka bermain di sini, pinggir jalan samping kanal. Anwar yang paling lincah di antara mereka menari menggocek bola melewati Sule’ yang hanya bisa terdiam, beruntung tendangan Anwar melambung tinggi di atas mistar gawang bambu bekas yang dikawal Libu’. Mereka sangat menikmati permainan ini, paling tidak sambil main Futsal mereka juga makan debu. Kali ini Anwar mendapat peluang lagi setelah merebut bola dari kaki Sule’, dengan tenang mengarahkan bola ke sudut gawang, Gol.

Bola yang mereka gunakan bukan bola bagus ala Futsal yang ukuran kelilingnya harus 64-66 cm dan beratnya 390-430 gram serta memiliki lambungan setinggi 55-65 cm pada pantulan pertama, tapi memakai bola plastik ringan seharga Rp.6000 yang pantulannya acak karena bulatnya cacat (baca:Gimpe).

Aco dan Wawan yang bertelanjang dada coba menyamakan kedudukan, one-two touch mereka menyulitkan pertahanan yang digalang Cikal, lewat, dan Gol, sebuah sontekan menyarangkan bola ke gawang bambu bekas penggusuran, mereka berpelukan bertukar keringat keakraban.


Tak jauh dari sini, sepeda motor tua melaju kencang, pengemudinya banyak pikiran, makan susah, istri tak memberi jatah, anak marah-marah, ibu sakit parah, dan dia baru saja di PHK, sebut saja namanya bang Imran. Malang baginya dan si Jono, niatnya memungut bola sundulan Wawan yang bersarang di gawangnya berujung maut, Bang Imran dan Dik Jono tewas seketika setelah terlibat tabrakan. Hilang lagi seorang kepala keluarga, Bang Imran meninggalkan istrinya yang pastinya menyesal tak memberinya jatah semalam, anaknya, dan ibunya yang sakit. Hilang pula seorang anak, Jono meninggalkan segala kesempitan di dunia ini berganti dengan lapangan luas surga yang gratis…


Siapa yang salah???

Entahlah, kejadian itu hanya mengingatkan kita pada tujuan negara kita, Melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia… Bukan membiarkan bocah-bocah bermain di jalanan karena Lapangan di jual pada makhluk asing penghisap darah…

BONGKARLAH PAGAR KAREBOSI UNTUK KAMI…

Apapun perlakuanmu ibu, nasib membuat kami tetap menjadi anakmu, kau kaya, hebat, dan besar, hanya saja kau dikendalikan oleh tangan yang salah…

Dari anakmu, Untuk ibu pertiwi…!!!!!

Read more

Wujud Nyata Pengayom Pancasila

0

Suatu petang yang dingin diguyur hujan hari itu, dingin tapi aku harus tetap di sini, menunggu, bersama dengan orang-orang berwajah murung. Orang-orang ini kebanyakan sedang menanggung beban, tatapan kosong, rambut acak-acakan, celana tergulung hanya sebelah, dan matanya bengkak kurang tidur. Begitulah kira-kira gambaran manusia yang orang terdekatnya tidak berdaya, terbaring sakit dan kini membutuhkan donor darah untuk bertahan hidup.

Read more

 
Design by ThemeShift | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Templates | Best Web Hosting